Belajar itu Wajib!

Tapi belajar tidak wajib di sekolah (formal)… :)

Kantin Kejujuran

June25

Satu lagi guest post dari adik saya, Karina Adistiana, yang seorang psikolog pendidikan dan perkembangan anak. Kali ini ia membahas tentang isi diskusi yang dilakukan ayah saya, Sulistyanto Soejoso (nah lho, jadi “mbulet” aja nih), salah satu anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur. Kan sudah saya tulis di bagian About Me, kalau “education runs in my blood”. :) Balik ke topik, posting kali ini adalah tentang Kantin Kejujuran, sebuah program inovatif yang dilakukan di sekolah2, namun kemudian dimatikan karena alasan yang salah. Kok bisa? Silahkan baca lebih lanjut. Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Manfaat Belajar Bela Diri Bagi Anak

June22

Dalam blog ini saya sesekali juga akan membahas mengenai subjek pelajaran yang semakin tersingkirkan dari sekolah formal yang lebih mengutamakan kemampuan logis-matematis dan linguistik saja. Kalau dulu saya pernah bahas tentang menari, kali ini saya akan bahas tentang bela diri dan manfaatnya bagi anak. Lain kali saya akan bahas mengenai manfaat belajar drama, berbicara di depan umum, meditasi, berpikir visual, dll. Ilmu-ilmu semacam ini sudah semakin dilupakan. Kenapa? Karena tidak ada dalam Ujian Nasional. :) Ini jawaban serius lho. Murid dan guru hanya berkonsentrasi pada pelajaran-pelajaran yang ada pada UN, sampai-sampai menghabiskan seluruh waktunya untuk latihan soal, akhirnya dunia anak-anak menjadi semakin sempit. So, kita mulai saja, manfaat belajar bela diri bagi anak-anak adalah…

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

The Child is Made of One Hundred

June19

Loris Malaguzzi adalah penemu pendekatan Regio Emilia, sebuah metode pendidikan pra sekolah di awal tahun 1960-an. Metode ini melihat anak kecil sebagai individu yang penuh rasa ingin tahu intelektual, penuh dengan sumber daya, dan penuh dengan potensi. Saya akan bahas tentang pendekatan Regio di beberapa posting ke depan. Untuk kali ini saya akan posting puisi pendidikan ciptaan Loris Malaguzzi yang… keren abis! (Tentu saja karena saya sangat passionate tentang pendidikan.) Puisi ini sebenarnya tanpa judul. Judul posting ini hanya saya ambil dari kalimat pertamanya. So, here goes… Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Charter of Rights – Reggio Emilia Approach

June17

Seperti sudah saya tulis di posting sebelumnya, Loris Malaguzzi sebagai penemu Reggio Emilia Approach juga membuat sebuah Charter of Rights yang mencantumkan hak-hak yang dimiliki oleh anak-anak, para guru, dan para orang tua dalam lingkungan pendidikan Reggio Emilia. Charter ini menjadi basis utama dari Reggio Emilia Approach. Jujur saja saya kesulitan menerjemahkannya, walaupun menerjemahkan berdasarkan konteks dan bukan kata per kata, karena Charter of Rights ini dipenuhi dengan kalimat-kalimat majemuk dan kata-kata “bersayap”. :) Berikut ini adalah terjemahannya.

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Pendekatan Reggio Emilia Untuk Pendidikan Anak Usia Dini

June15

Satu lagi metode atau pendekatan pendidikan, terutama untuk anak usia dini, yang berbeda dari pendekatan konvensional, yaitu Reggio Emilia Approach (REA). Pendekatan REA ini berkomitmen “menciptakan kondisi pembelajaran yang akan mendorong dan memfasilitasi anak untuk membangun kekuatan berpikirnya sendiri melalui penggabungan seluruh bahasa ekspresif, komunikatif, dan kognitifnya” (Edward & Forman, 1993). Halah, rumit? Memang REA ini adalah sistem yang kompleks, namun sangat menarik perhatian dunia pendidikan anak usia dini selama 50 tahun terakhir.

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Standardized Test, Perusak Pendidikan?

June11

Posting ini adalah lanjutan dari posting sebelumnya tentang Standardized Test (ST). Kalau sebelumnya tentang kelemahan dan relevansi ST, maka kali ini saya akan bahas tentang dampak ST bagi dunia pendidikan. Referensinya masih sama, yang paling utama dari Fairtest.org dan juga dari beberapa situs lain.

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Standardized Test, Masihkah Relevan?

June8

Setiap kali berdiskusi soal Ujian Nasional (UN), saya selalu saja mendengar opini bahwa Ujian Nasional sebenarnya baik, hanya pelaksanaannya saja yang memang masih tidak sempurna dan butuh perbaikan. Nooo… Saya sendiri termasuk yang berpendapat bahwa UN sebagai salah satu bentuk dari standardized test (ST) memiliki masalah bertumpuk-tumpuk, bahkan dari sisi konsep dasar pendidikan pun bermasalah. Apa saja masalahnya? Berikut ini beberapa yang saya sadur dari beberapa sumber di internet, terutama dari Fairtest.org.

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Sejarah Tes Kecerdasan

June4

Wuah, sudah sebulan lebih tidak update blog ini. Maklum, sebulan kemarin masih disibukkan urusan pernikahan. ;) Setelah itu sempat beberapa saat sibuk mencoba medium baru untuk berbagi, yaitu melalui akun Twitter @kreshna dengan cara memberikan “kuliah twitter” alias serial tweets tentang topik tertentu. Catatan: Bila Anda tidak paham apa yang saya bicarakan, segera cari tahu apa itu Twitter dan segala pemanfaatannya, karena dapat menjadi alat bantu yang luar biasa dalam proses pendidikan kita sendiri maupun untuk berbagi pada orang lain. Sudah tidak saatnya pendidikan hanya mendekam di dunia analog. :)

Topik yang saya angkat kali ini juga sebelumnya telah saya sampaikan dalam kultwit beberapa waktu yang lalu, yaitu tentang sejarah tes kecerdasan. Tes kecerdasan saat ini memiliki peran penting dalam menentukan nasib pendidikan seseorang. Puluhan ribu orang mengikuti tes kecerdasan setiap tahunnya, namun para psikolog dan pakar pendidikan mempertanyakan apakah tes-tes semacam ini adalah cara yang akurat dalam memprediksi kesuksesan seseorang di sekolah maupun dalam hidupnya nanti. Sebenarnya bagaimana awal berkembangnya tes kecerdasan?

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Mengapa UN Sebagai Syarat Kelulusan Perlu Ditolak

May4

Satu lagi guest post yang saya dapat minggu ini, dari Ibu Arifah Handayani yang juga pendiri group Smart Parenting di Facebook. Tulisan ini aslinya adalah note di Facebook. Dalam note ini Bu Arifah bercerita tentang tanggapan seseorang yang membela Ujian Nasional serta tanggapan balasan dari Pak Munif Chatib, seorang konsultan dan pengamat pendidikan di Jawa Timur. Pak Munif memberikan beberapa argumen tentang mengapa UN perlu ditolak sebagai syarat kelulusan dan perlu direfungsikan sebagai pemetaan distribusi kualitas pendidikan saja. Dengan ijin Bu Arifah, tulisan ini saya jadikan guest post serta sekaligus pembuka untuk beberapa serial blog post ke depan mengenai Ujian Nasional sebagai standardized test dan berlapis-lapis permasalahannya. Enjoy!

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

Yoo Man, This is Tony Q Rastafara’s Way!

April30

Hari Rabu malam lalu, saat saya sedang beristirahat di kamar dan melepas lelah sepulang dari kantor, tiba-tiba handphone saya berbunyi. Di layar tertera nama Yudy, salah seorang Division Head di perusahaan bank mikro tempat saya bekerja. “Huff, urusan pekerjaan memang sering bisa mengikuti kita sampai rumah,” pikir saya. “Kresh, sudah di rumah kan? Lagi nganggur?” tanya pak Yudy di ujung sana. Harus jawab apa nih? Saya pun menjawab dengan balik bertanya, “Kenapa, Pak? Ada yang perlu saya kerjakan?” Ia menjawab, “Dulu waktu aku cerita soal cafe yang live music-nya blues sama reggae kamu kan tertarik. Ini aku lagi ada di Jakarta. Ayo kita ke sana, tak temenin kamu.” Waah, ternyata bukan masalah kerjaan. Sebenarnya saya sudah mulai mengantuk ketika menerima telepon itu, tapi rasa penasaran saya selalu dapat mengalahkan kantuk. “Ok, Pak. Saya jemput Bapak di hotel tempat Bapak menginap, terus kita ke sana bareng ya, Pak? Sampai ketemu.”

Read the rest of this entry »

Post to Twitter Tweet This Post

posted under Kisah Sukses | 1 Comment »