Perubahan bidang pendidikan harus terus berproses selaras dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di berbagai bidang yang lain. Bahkan perubahan bidang pendidikan harus dilakukan justru (kalau bisa) untuk mengantisipasi perubahan yang akan terjadi. Karena pentingnya peran perubahan pendidikan itu, iseng-iseng saya ingin tahu, perubahan pendidikan (di Indonesia ini) apa saja yang saya masih ingat sampai ke hal detailnya.
Yang langsung muncul di benak saya, perubahan kurikulum. Sayang, saya tidak ingat detail perubahannya. Saya hanya bisa ingat ujung-ujungnya. Perubahan yang terjadi itu hampir semuanya gagal diimplementasikan sesuai rencana dan gagal mencapai hasil seperti yang diharapkan. Penyebab terbesar dari kegagalan itu juga masih bisa saya perkirakan, yaitu keengganan guru untuk berubah. Inilah kuncinya. Perubahan pendidikan hanya akan berhasil jika guru-gurunya mau berubah sesuai dengan perubahan yang direncanakan. Seberapa hebatpun rancangan perubahan itu, kalau mayoritas guru tidak mau atau enggan berubah, maka hasilnya sudah bisa dipastikan,kegagalan.
Setelah lama merenung dan mengingat, nah ketemulah perubahan pendidikan Indonesia yang saya masih ingat detailnya. Apa itu? Perubahan istilah. Read the rest of this entry »
CATATAN: Laman ini adalah laman backup yang bersifat sementara. Laman awal di http://bit.ly/IndonesiaJujur sudah bisa diakses kembali. Silahkan mengakses ke halaman tersebut untuk informasi dan update yang lebih lengkap. Terima kasih. Salam kejujuran. Read the rest of this entry »
Kali ini saya mendapatkan guest posting lagi dari Bpk Sulistyanto Soejoso, anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur yang bercerita tentang permasalahan Guru Tidak Tetap dan Pegawai Tidak Tetap. Tulisannya akan dipecah ke beberapa posting, dengan posting pertama ini hanya mengungkapkan kondisi yang ada saat ini. Sungguh miris membaca tulisan beliau. Membuat kita semakin sadar betapa kompleks dan carut-marutnya permasalahan pendidikan di Indonesia. Guru pun tidak luput menjadi korban. Silahkan membaca dan merenungi tulisan singkat beliau di bawah ini.
Pernah mengajak anak ke play ground atau taman bermain? Ia akan melihat jenis-jenis alat permainan yang ada seperti ayunan, jungkat-jungkit, dan lainnya, bermain-main dengan senang, lalu lama-lama juga akan bosan karena tidak ada sesuatu yang baru. Apa yang kurang dengan taman bermain yang ada sekarang? Yah, taman bermain yang umum kita lihat saat ini sudah menentukan apa yang harus dilakukan anak. Sudah ada Standard Operation Procedur-nya. Kalau di ayunan ya berayun, kalau main jungkat-jungkit ya gitu caranya. Jadi sebenarnya anak tidak terlalu banyak bisa berbuat.
Melihat permasalahan ini, David Rockwell, seorang arsitek dan desainer kenamaan di New York, merasa gemas dan kemudian berinisiatif merancang taman bermain yang bisa memicu kreativitas anak. Seperti apa bentuknya? Silahkan lihat video di atas dan penjelasannya berikut ini.
Sesuai janji saya di posting sebelumnya tentang “Oh, the Places You’ll Go!”, di posting kali ini saya akan membahas karya Dr. Seuss yang lain, yaitu “Oh, the Thinks You Can Think!” Karya yang ini tidak kalah keren. Silahkan lihat di video di atas. Wajib tonton! Ditulis dan digambar pada tahun 1975, “Oh, the Thinks You Can Think!” mengajarkan anak-anak untuk berani berimajinasi.
Kalau saya diminta merekomendasikan sedikit buku anak-anak yang menginspirasi dan penuh pembelajaran, buku-buku karya Dr. Seuss pasti saya sertakan. Untuk beberapa posting ke depan saya akan membahas tentang Dr. Seuss dan juga beberapa karyanya.
Untuk posting pertama ini saya akan memulai langsung dengan karya Dr. Seuss yang paling saya suka dan sudah saya baca/tonton entah berapa ratus kali. Judulnya adalah “Oh, the Places You’ll Go”, karya terakhir Dr. Seuss yang dipublikasikan sebelum ia meninggal dunia. Kebetulan saya juga menemukan versi video yang dibacakan di YouTube, dan langsung jadi favorit saya!
Akhirnya sampai juga saya ke posting terakhir untuk seri video Dr. Tae ini. Setelah empat posting sebelumnya (1, 2, 3, 4) membahas tentang masalah, di posting ini saya akan rangkum beberapa solusi yang ditawarkan Dr. Tae. Btw, ia tidak menawarkan obat dewa yang sanggup menghapus semua masalah sistem pendidikan yang kacau balau. Permasalahan pendidikan begitu kompleks sehingga membutuhkan kesadaran dan perubahan yang diusahakan oleh seluruh stakeholder dunia pendidikan. Maka dibutuhkan kumpulan solusi yang integral.
Ini adalah posting bagian keempat dari seri video Dr. Tae. Setelah posting pertama, kedua, dan ketiga membahas tentang masalah yang kita temui di sekolah formal, pada video ketiga ini Dr. Tae merekapitulasi penyebab masalah serta menawarkan solusinya. Di posting kali ini saya akan bahas rekapitulasi masalahnya.
Lanjut ya… Setelah posting pertama dan kedua, posting ketiga ini masih membahas tentang satu penyebab sekolah formal tidak berhasil menyediakan pendidikan yang berkualitas bagi siswa, menurut Dr. Tae. Sedikit review, masalah pertama menurut Dr. Tae adalah sekolah tidak merekruit guru-guru yang berkualitas, sedangkan masalah kedua adalah format kelas yang tidak efektif. Lalu apa masalah ketiga?
Dalam posting kali ini saya akan melanjutkan pembahasan sebelumnya mengenai video dari Dr. Tae tentang membangun budaya belajar dan mengajar yang baru. Video di bawah ini adalah video ke-2 dari Dr. Tae, sedangkan link untuk bagian pertama dan terakhir ada di bawahnya.
Setelah sebelumnya membahas masalah pertama dari tiga masalah yang ia ajukan sebagai penyebab buruknya kelas sains secara khusus dan pendidikan pada umumnya saat ini, sekarang saya akan merangkum tentang masalah kedua dan ketiga: