Profil Provinsi Sulawesi Selatan | Geografis, Suku, Bahasa, Agama dan Tempat Wisatanya

Sulawesi Selatan adalah Provinsi di Indonesia. Provinsi ini kaya dengan bentang alam yang indah.

Berbagai macam suku yang tinggal di Sumatera Barat membuat provinsi ini memiliki adat budaya yang bervariasi dan menarik.


Kondisi Geografis Provinsi Sulawesi Selatan


Provinsi Sulawesi Selatan berada di 0°12′ – 8° Lintang Selatan dan 116°48′ – 122°36′ Bujur Timur. Provinsi ini memiliki luas sebesar 62.482,54 km².

Dari segi administratif, wilayah Provinsi Sulawesi Selatan di bagian utara berbatasan dengan Provinsi Sulawesi Tengah.

Di bagian barat dibatasi oleh Selat Makassar, di bagian timur berbatasan dengan Laut Teluk bone. Sedangkan di bagian selatan berbatasan dengan Laut Flores.

Provinsi ini menempati 42% dari luas Pulau Sulawesi dan menempati 4,1% dari luas wilayah Indonesia.

Sulawesi Selatan terletak di lokasi yang strategis dari wilayah timur Indonesia sehingga menjadikan provinsi ini menjadi pusat pelayanan untuk wilayah timur di Indonesia dan skala internasional.


Jumlah Penduduk Provinsi Sulawesi Selatan


Badan Pusat Statistik mengeluarkan data jumlah penduduk yang tinggal di Provinsi Selatan pada tahun 2011.

Jumlah penduduk yang berhasil didata adalah 8.034.776 jiwa yang terdiri dari laki-Laki sebanyak 3.934.431 dan perempuan sebanyak Perempuan 4.110.345.


Suku Provinsi Sulawesi Selatan


Di Provinsi Sumatera Selatan terdapat empat suku utama yang tinggal yakni Toraja, Mandar, Bugis, dan Makassar.

Ada juga suku lain seperti Endekan, Bone, Kajang atau Konjo, Pattinjo, Pattae, Duri, dan Maroangin.


Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan


Ada beberapa bahasa yang digunakan oleh masyarakat Provinsi Sumatera Selatan sebagai berikut:

• Bahasa Makassar digunakan oleh penduduk Makassar yakni Bulukumba, Jeneponto, Sungguminasa, Bantaeng, dan Takalar.

• Bahasa Bugis yang digunakan oleh penduduk di Barru, Soppeng, Kota Pare Pare, Sinjai, Pangkep, Bone, Sidrap, Enrekang, dan Wajo. Bahasa Bugis merupakan bahasa yang paling banyak digunakan oleh penduduk di Sulawesi Selatan.

• Bahasa Tae’ Luwu merupakan bahasa yang digunakan di Kabupaten Wajo, Tana Luwu, Kolaka Utara, Siwa, dan Sulawesi Tenggara.

• Bahasa Toraja digunakan oleh penduduk Tana Toraja dan yang tinggal di sekitarnya.

• Bahasa Mandar adalah bahasa yang digunakan oleh suku Mandar. Suku ini berada di Sulawesi Barat di Mamuju Utara, Majene, Polewali Mandar, dan Mamuju.

• Bahasa Duri merupakan adalah bahasa yang berasal dari rumpun Austronesia yang ada di Sulawesi Selatan dan termasuk dalam dialek Massenrempulu. Dari Bahasa Massenremplu, Duri merupakan bahasa yang sangat dekat dengan bahasa Tae’ Luwu dan Toraja. Pengguna bahasa ini berada di daerah utara Kabupaten Enrekang, Gunung Bambapuang, dan perbatasan Tana Toraja.

• Bahasa Konjo dibagi menjadi dua yakni Bahasa Konjo Pegunungan dan Bahasa Konjo Pesisir. Masyarakat Konjo Pegunungan berada di daerah tenggara dari Gunung Bawakaraeng. Masyarakat Konjo Pesisir berada di pesisir Bulukumba dan di bagian tenggara dari Pulau Sulawesi.


Agama Provinsi Sulawesi Selatan


Mayoritas penduduk di Sulawesi Selatan memeluk agama Islam. Penduduk yang tinggal di Kabupaten Tana Toraja memeluk agama Kristen. Ada juga masyarakat yang memeluk agama Budha atau Hindu.


Pemerintahan Provinsi Sulawesi Selatan


Lima tahun setelah Indonesia merdeka pemerintah mengeluarkan Undang-Undang Nomor 21 di tahun 1950 yang dijadikan sebagai landasan hukum dari berdirinya wilayah administratif Sulawesi.

Pada 10 tahun kemudian, Undang-Undang Nomor 47 tahun 1960 dikeluarkan sebagai peresmian dibentuknya provinsi Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.

Empat tahun berikutnya, pemerintah kembali mengeluarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1964 untuk memisahkan Sulawesi Selatan dari Sulawesi Tenggara.

Kemudian pemerintah membagi Sulawesi Selatan jadi dua menurut Undang-Undang Nomor 26 di tahun 2004.


Adat Istiadat dan Budaya Provinsi Sulawesi Selatan


Provinsi Sulawesi Selatan memiliki kebiasaan yang unik. Salah satunya adalah Mappalili. Di suku Bugis ini disebut dengan Mappalili.

Sedangkan suku Makassar mengenal dengan sebutan Appalili yang berasal dari palili. Ini memiliki arti menjaga tumbuhan padi dari gangguan yang dapat menghancurkan tanaman tersebut.

Appalili merupakan ritual yang dilakukan secara turun temurun dan tetap dilestarikan oleh penduduk di Sulawesi Selatan.

Penduduk yang tinggal di Kabupaten Pangket melaksanakan Mappalili karena kebiasaan ini sudah ada dari beberapa tahun yang lalu.

Mappalili merupakan sebuah pertanda untuk menanam padi. Tujuan dari adat ini adalah agar tanah kosong yang akan ditanami terhindar dari gangguan yang dapat mengurangi hasil panen padi.


Makanan Tradisional Provinsi Sulawesi Selatan


Beragam budaya dan banyaknya provinsi yang berada di Indonesia, membuat negara ini memiliki banyak makanan khas dari berbagai provinsi. Berikut ini merupakan masakan khas dari Provinsi Sulawesi Selatan:

  • Coto Makasaar
  • Pisang Epe
  • Tenteng
  • Roti Maros
  • Pisang Ijo
  • Kapurung
  • Bassang
  • Nasu Palekko
  • Bipang
  • Jalangkote
  • Benno
  • Barongko
  • Sup Konro
  • Pallu Butung
  • Sup Saudara, dan masih banyak lagi.

Tempat Wisata di Provinsi Sulawesi Selatan


Inilah daftar wisata yang ada di Provinsi Sulawesi Selatan yang sudah terkenal di kalangan wisatawan dalam negeri maupun mancanegara:

Pantai Losari

Pantai ini unik karena di pinggir pantai tidak ditemukan pasir tetapi pinggirnya berupa beton. Meskipun tidak ada pasir, banyak wisatawan yang suka berenang dan bermain di pantai ini.

Taman Laut Taka Bonerate

Wisata ini menyuguhkan wisata dalam air. Ini adalah taman laut dan wisatawan dapat berenang dengan kura-kura, penyu, ikan, serta melihat terumbu karang dengan warna yang cantik.

Taman Nasional Bantimurung

Taman ini terkenal dengan koleksi kupu-kupu. Terdapat sekitar 250 spesies kupu-kupu yang hidup di taman ini.

Malino

Di tempat ini terdapat bunker dari masa penjajahan Jepang serta panorama pegunungan kapur yang indah.

Pantai Tanjung Bira

Pantai ini memiliki keindahan yang disukai banyak wisatawan karena masih sangat alami.


Pesona Wisata Tana Toraja


Ketika Anda sedang merencanakan suatu perjalanan liburan, tak ada salahnya bila Anda merencanakan pergi ke wisata Tana Toraja yang berada di kawasan provinsi Sulawesi Selatan.

Kawasan wisata ini mungkin akan sedikit berbeda dari berbagai destinasi wisata yang ada di Indonesia. Salah satu keeksotisan dari kawasan wisata ini adalah adanya upacara pemakaman yang kental unsur mistis dan budaya.

Namun, hal ini pula yang menjadi salah satu daya pikat dan eksotisme dari kawasan ini sehingga banyak wisatawan baik lokal maupun mancanegara tertarik untuk berkunjung ke lokasi wisata tersebut. Bahkan di tiap tahunnya, kunjungan wisatawan yang datang ke destinasi wisata di Sulawesi ini mengalami banyak peningkatan.

Ada beberapa destinasi dan tujuan wisata Tana Toraja yang bisa menjadi alternatif untuk mengisi waktu liburan Anda bersama keluarga ataupun teman-teman kerja.

Kawasan Tana Toraja bisa ditempuh sekitar 8 jam melalui jalur darat dari kota Makassar dengan melewati daerah Pare-Pare dan Enrekang.

Setelah menempuh jalur yang cukup panjang dan melelahkan, Anda akan tiba di kawasan Tana Toraja dan Anda akan merasakan sensasi serta suasana seperti di masa lalu yang mana hal ini mungkin tidak akan jumpai di kawasan lainnya.

Kawasan ini telah menjadi salah satu tempat konservasi budaya khususnya untuk kebudayaan Proto Melayu Austronesia yang tetap terjaga hingga di era modern seperti saat ini. Dan, kawasan ini telah diajukan ke UNESCO sebagai salah situs warisan budaya dunia.

Keunikan dan keeksotisan dari kawasan wisata Tana Toraja adalah masyarakatnya yang sangat berpegang teguh pada adat istiadat serta budaya para leluhur.

Hal ini pula yang menjadi salah satu daya tarik bagi para wisatawan untuk datang dan berkunjung menyelami secara lebih dalam tentang beragam budaya dan tradisi dari masyarakat Tana Toraja.

Salah satu tradisi dan budaya yang menjadi keunikan dari kawasan wisata ini adalah adanya upacara pemakaman Rambu Solo serta tradisi penggantian pakaian dari jenazah leluhur yang dikenal dengan istilah Ma’Nene. Tradisi penggantian pakaian jenazah leluhur ini berlangsung untuk tiga tahun sekali.

Masyarakat di kawasan ini percaya dan berpegang teguh pada adat istiadat serta budaya yang harus dipelihara dengan baik hingga sekarang karena jika hal ini tidak lakukan maka kehidupan mereka akan mendapatkan kesulitan.

Keunikan lain yang ada di kawasan ini adalah tata kehidupan masyarakat yang tetap menjaga kesederhanaan dalam kehidupan kesehariannya karena mereka meyakini bahwa kehidupannya saat ini adalah untuk mempersiapkan dan bekal nanti ketika kematian datang kepada mereka.

Ketika Anda berkunjung ke kawasan Tana Toraja, Anda pastinya tidak ingin melewatkan untuk berkunjung ke sejumlah situs budaya seperti pemakaman tradisional pada masyarakat Toraja yang berlokasi di atas bukit batu.

Di kawasan pemakaman ini Anda akan menemukan berbagai tengkorak dan kerangka manusia yang dikumpulkan di suatu tempat khusus.

Selain itu, ada juga beberapa peti mati yang diposisikan di sejumlah lokasi di bukit batu tersebut. Selain situs pemakaman yang berada di atas bukit batu, Anda juga bisa menemukan tempat pemakaman bayi yang belum tumbuh gigi.

Pemakaman untuk bayi tersebut adalah Kambira yang mana pemakaman tersebut ditempatkan di sebuah batang pohon. Anda juga bisa mengunjungi Taman Seratus Menhir, serta berbagai rumah adat Tongkonan yang memiliki design dan gaya unik.

Andapun sebaiknya tidak melewatkan adanya festival Toraja Lovely December sebagai bagian dari destinasi wisata Tana Toraja.

4 Cerita Rakyat Sulawesi Selatan

Halo Kawan, dalam artikel kali ini kami akan menyampaikan sebuah cerita rakyat dari Sulawesi Selatan yang mungkin Anda belum pernah mendengarnya. Yuk simak selengkapnya.


1. Cerita Rakyat Kisah Panglima Lidah Hitam


Alkisah diceritakan , pada zaman dahulu kala di salah satu puncak bukit di daerah Napo ada seorang raja yang bernama Balinapa. Seperti kata pepatah “kalau sudah duduk, lupa berdiri”, Raja Balinapa pun demikian juga.

Ia sudah berkuasa sekitar tiga puluh tahun, namun tidak mau melepaskan tahtanya. Jangankan ke orang lain, pada anaknya sendiri pun ia tak mau mewariskan tampuk pimpinan kerajaannya.

Agar tetap bugar Raja Balinapa selalu berusaha keras menjaga kesehatannya, baik dengan cara berolahraga secara teratur, latihan perang, maupun pergi berburu di hutan. Selain itu, ia juga tidak lupa untuk selalu minum jamu atau obat-obatan ramuan tabib kerajaan. Semuanya itu dia lakukan agar ia dapat berumur panjang dan tetap menjadi raja.

Sedangkan untuk urusan keturunan, seperti halnya Firaun, ia hanya mau mempunyai anak-anak perempuan. Tiap permaisurinya melahirkan anak laki-laki, Raja Balinapa langsung membunuhnya. Hal ini dimaksudkan agar si anak laki-laki tidak sempat merebut kekuasaannya.

Kelakuan Raja Balinapa tersebut tentu saja membuat hati permaisuri selalu cemas. Tiap kali hamil, sang permaisuri selalu berharap agar bayinya berjenis kelamin perempuan. Ia merasa tidak tega apabila bayinya harus mati sia-sia hanya karena terlahir sebagai laki-laki.

Suatu hari, saat sang permaisuri sedang hamil tua, secara kebetulan pula Raja Balinapa ingin berburu ke daerah Mosso. Karena takut akan melahirkan bayi laki-laki, maka sang permaisuri harus menyertainya dalam perburuan.

Sebelum memasuki hutan di daerah Mosso, Raja Balinapa berpesan pada panglima perangnya bernama Puang Mosso yang menjaga Permaisuri di tepi hutan. Isi pesannya adalah apabila besok atau lusa ia belum kembali sementara permaisuri melahirkan anak laki-laki, maka anak itu harus segera di bunuh!

“Segala perintah Baginda pasti akan hamba laksanakan,” jawab Puang Mosso.

Selain kepada Puang Mosso, Raja Balinapa juga menugaskan seekor anjing terlatih untuk mengawasi Permaisuri. Ia berkeyakinan bahwa manusia bisa saja dapat berubah pikiran, sementara binatang (anjing) akan selalu setia dan patuh terhadap tuannya.

Kekhawatiran Raja Balinapa ternyata terbukti. Sehari setelah ia berangkat berburu, Permaisuri melahirkan seorang bayi laki-laki. Namun karena memiliki suatu keanehan, yaitu lidahnya berbulu dan berwarna hitam, maka Puang Mosso yang ditugaskan untuk membunuhnya menjadi ragu dan bingung. Ia merasa tidak tega untuk segera mengakhiri hidup sang bayi.

Sementara sang anjing pengawal yang juga mengetahui bahwa Permaisuri telah melahirkan segera mendekat dan menjilati sarung bekas persalinan yang masih meninggalkan darah. Selanjutnya, anjing tersebut langsung berlari memasuki hutan untuk menemui tuannya, Raja Balinapa. Ia akan memperlihatkan darah bekas persalinan pada Raja Balinapa agar sang raja mengetahui bahwa Permaisuri telah melahirkan.

Di lain pihak, Puang Mosso yang merasa kasihan melihat keadaan bayi laki-laki itu segera mencari akal untuk mengelabuhi Raja Balinapa. Ia lalu menyerahkan bayi tersebut pada seseorang yang secara kebetulan akan berlayar ke daerah Salemo. Setelah itu, Puang Mosso menyembelih seekor kambing dan membuatkan nisan untuk kuburan. Pikirnya, raja tentu akan percaya melihat darah kambing yang tercecer di tanah dan kuburan yang dibuatnya.

Ketika Raja Balinapa kembali dari berburu, ia langsung bertanya pada Puang Mosso, “Apakah Permaisuri sudah melahirkan? Bayinya laki-laki atau perempuan?”

“Permaisuri telah melahirkan bayi laki-laki dan hamba langsung menyembelihnya, sebagaimana pesan Baginda. Marilah hamba antarkan Baginda untuk melihat kuburan bayi itu,” kata Puang Mosso dengan tenang.

Benar saja, setelah melihat kuburan dan juga darah yang berceceran di sekelilingnya, Sang Raja langsung percaya. Raja sama sekali tidak mengetahui bahwa bayinya telah dititipkan pada orang di Pulau Salemo.

Singkat cerita, sang bayi yang diasuh oleh orang Salemo itu semakin bertambah besar dan menjadi seorang remaja. Dia senang sekali memanjat. Suatu hari, ketika dia sedang memanjat pohon, tiba-tiba datanglah seekor burung rajawali raksasa yang mencengkeram pundaknya lalu membawanya terbang ke daerah Gowa. Sesampainya di sana, sang burung menjatuhkan anak itu di tengah persawahan. Para petani yang melihat kejadian tersebut segera menolong dan membawanya kepada Raja Gowa.

Setelah mengamati beberapa saat, terutama pada wujud lidah sang anak yang berbulu dan berwarna hitam, Sang Raja pun berkata pada penasihat kerajaan, “Anak ini bukanlan anak sebarangan. Oleh karena itu, peliharalah hingga dewasa dan ajarilah segala macam ilmu keperwiraan agar ia menjadi orang yang gagah, kuat dan juga sakti!”

Saat sang anak telah tumbuh dewasa dan telah menjadi seorang yang kuat, gagah, dan juga sakti, Raja Gowa kemudian mengangkatnya menjadi panglima. Dan, karena ia selalu menang dalam setiap pertempuran, maka ia pun diberi gelar Panglima I Manyambungi. Ia menjadi panglima yang ditakuti di seantero Kerajaan Gowa.

Di tempat lain, yaitu di bukit Napo, Raja Balinapa yang sebetulnya ayahanda I Manyambungi diserang oleh Raja Lego yang sakti hingga tewas. Raja Lego adalah raja yang teramat kejam. Ia suka membunuh dan mengganggu rakyat yang berada di luar negerinya. Untuk mengatasi hal ini, para raja di sekitar Kerajaan Lego yang mulai gelisah segera mengadakan pertemuan. Dan, dalam pertemuan tersebut mereka bersepakat meminta pertolongan dari Kerajaan Gowa yang dikenal memiliki seorang panglima perang yang gagah perkasa dan sakti mandraguna.

Kemudian, diutuslah salah seorang dari mereka untuk menemui Raja Gowa. Namun diluar perkiraan, Raja Gowa ternyata menolak permintaan tersebut. Ia takut apabila I Mayambungi pergi ke Balinapa, maka Kerajaan Gowa bisa saja diserang oleh kerajaan lain yang menjadi pesaingnya. Sementara itu, I Manyambungi yang dari tadi duduk di belakang Raja Gowa hanya diam saja.

Namun, saat utusan tersebut keluar dari istana Kerajaan Gowa dengan langkah gotai, tiba-tiba I Manyambungi mendatanginya dan berkata, “Saya akan turut ke Balinapa untuk membantu kalian dengan syarat yang datang menjemput saya adalah Puang Mosso. Ia harus datang secara sembunyi-sembunyi dan jangan sampai Raja Gowa mengetahuinya.”

Saat utusan yang bernama Puang Napo tiba di Balinapa, ia langsung menuju ka rumah Puang Mosso untuk menyampaikan amanat dari I Manyambungi. Ketika mendengar syarat yang diajukan I Manyambungi, Puang Mosso segera tersentak kaget, heran dan sekaligus cemas. Mengapa harus dia yang menjemput? Apa hubungan panglima terkenal Kerajaan Gowa itu dengannya?

Agar rasa penasarannya segera terjawab, maka Puang Mosso pun bergegas berangkat menuju Gowa. Tiba di Gowa dengan dada yang berdebar-bedar dia langsung menghadap I Manyambungi. I Manyambungi pun berkata, “Saya akan berangkat ke Balinapa bersamamu. Hal ini bukan karena para raja di sana yang meminta, tetapi karena aku telah berhutang budi kepadamu Puang Mosso. Engkau telah menyelamatakan nyawaku!”

Tanpa berkata apa-apa Puang Mosso segera mempersilahkan I Manyambungi mengikutinya berlayar ke Balinapa. Dalam perjalanan pulang itu dalam hati Puang Mosso bertanya-tanya, “Kenapa ia menganggapku telah menyelamatkan nyawanya? Kapankah aku pernah bertemu dengannya? Mungkinkah seorang panglima perang yang gagah perkasa dan sakti mandraguna ini pernah minta pertolonganku?”

Sebelum pertanyaan itu terjawab, tiba-tiba Puang Mosso melihat I Manyambungi menguap karena mengantuk. Dari situ Puang Mosso melihat dengan jelas lidah sang panglima yang berwarna hitam dan berbulu. Spontan ia pun berteriak, “Engkau adalah putera Raja Balinapa.”

Setelah perahu merapat di Balinapa, mereka langsung menurunkan semua peralatan perang dan membawanya menuju Bukit Napo. Perjalanan dari Gowa menuju Napo nantinya membuat I Manyambungi diberi julukan lagi, yaitu “To Dilaling” yang berarti “orang yang hijrah”.

Sesampainya mereka di istana Raja Lego, I Manyambungi langsung menantangnya untuk berperang. Dan, dalam pertempuran yang sangat dahsyat dan lama itu akhirnya Raja Lego dapat dikalahkan. Raja lalim itu tewas di ujung badik I Manyambungi. Akhirnya, I Manyambungi pun didaulat oleh Rakyat Balinapa untuk menjadi raja menggantikan ayahnya. Pada masa pemerintahan I Manyambungi negeri ini menjadi aman, makmur dan sentosa.


2. Cerita Rakyat Putri Tadampalik


Pada Zaman dahulu, di Kerajaan Luwu terdapat seorang puteri yang cantik jelita bernama Puteri Tadampalik. Dia adalah anak dari raja Luwu yang terkenal bijaksana dan gagah berani, yaitu Datu Luwu la Bustana Daru Maongge.

Oleh karena kecantikannya itu maka banyak orang yang tertarik padanya, termasuk Pangeran Bone. Pangeran Bone kemudian mengutus orang kepercayaannya untuk mengajukan lamaran kepada ayah Puteri Tadampalik.

Ketika menerima utusan Pangeran Bone yang ingin melamar puterinya, Raja Luwu menjadi gundah. Di satu pihak jika ia menerima lamaran tersebut, artinya dia melanggar adat yang tidak memperbolehkan putri Luwu menikah dengan lelaki di luar sukunya. Namun jika menolak, dia khawatir kerajaan Bone yang terkenal kuat akan menyerang negerinya dan membuat rakyat menderita.

Dan, setelah mempertimbangkan masak-masak akhirnya Datu Luwu memutuskan untuk menerima pinangan raja Bone. Para utusan raja Bone pun akhirnya pulang ke negerinya dengan membawa berita bahagia.

Namun sayang, beberapa minggu kemudian tiba-tiba Putri Tadampalik jatuh sakit. Penyakitnya sangat aneh. Kulit sang putri yang tadinya putih dan mulus, kini dipenuhi benjolan-benjolan yang mengeluarkan nanah dan berbau amis. Sangat menjijikan. Tabib-tabib yang mencoba mengobati sang putri pun angkat tangan.

Khawatir penyakit putrinya akan menular dan menjadi wabah, dengan berat hati Datu Luwu memutuskan untuk mengasingkan putrinya keluar dari Luwu. Dibuatkanlah sebuah rakit raksasa untuk membawa sang putri yang hanya ditemani oleh beberapa pengawal dan dayang setianya.

Pada hari yang ditentukan, Datu Luwu memberikan sebilah keris pusaka kepada putrinya dan berpesan untuk selalu menjaga diri. Rakit itu pun meluncur ke arah muara diiringi tangis kesedihan rakyat Luwu.

Setelah berhari-hari berlayar, mereka menemukan sebuah tempat yang sangat subur dan memutuskan untuk berlabuh. Di sana mereka membuatkan bangunan untuk putri Tadampalik, mendirikan pemukiman dan mulai bercocok tanam. Karena di daerah itu banyak ditemukan pohon Wajo maka mereka menamakan tempat itu Desa Wajo dan putri Tadampalik diberi gelar putri Wajo.

Suatu hari, ketika putri Tadampalik sedang duduk di beranda, tiba-tiba seekor kerbau bule datang menghampirinya dan lalu menjilati kulitnya. Air liur kerbau bule tersebut terasa sejuk sehingga sang putri membiarkan kerbau itu menjilatinya.

Sejak itu, setiap hari kerbau bule tersebut selalu datang dan menjilati kulit putri Tadampalik hingga lama kelamaan kulit sang putri yang membusuk mulai mengering dan akhirnya benar-benar sembuh. Bahkan kulit putri Tadampalik semakin putih dan mulus. Putri tadampalik mengucap syukur kepada Tuhan yang telah mengirim kerbau bule tersebut. Sebagai tanda syukurnya putri Tadampalik melarang rakyat dan keturunannya mengganggu apalagi menyembelih kerbau bule.

Singkat cerita, suatu hari pangeran Bone yang sedang berburu bersama para pengikutnya tersesat dan terpisah dari rombongannya. Dia masuk jauh ke dalam hutan hingga dia tidak tahu lagi arah mana yang harus ditempuh. Tiba-tiba dia melihat cahaya lampu di kejauhan. Maka dipacunya kudanya menuju arah cahaya tersebut.

Ternyata itu adalah perkampungan putri Tadampalik. Maka dia pun dibawa menghadap sang putri. Pangeran sangat terpesona dengan kecantikan putri Tadampalik dan ia pun jatuh cinta. Pangeran tidak mengetahui bahwa sebenarnya dia telah ditunangkan dengan putri Tadampalik.

Maka setelah beberapa hari tinggal di pemukiman tersebut dan pangeran bersiap-siap untuk kembali ke negerinya, dia mengungkapkan keinginannya untuk memperisteri putri Tadampalik. Beberapa hari kemudian pangeran dan beberapa utusannya kembali datang dan meminang putri Tadampalik secara resmi. Putri lalu menyerahkan keris pusaka kerajaan Luwu dan meminta pangeran untuk menyerahkan keris itu kepada ayahandanya. Jika keris itu diterima dengan baik oleh ayahnya, artinya lamaran pangeran diterima.

Perjalanan itu ditempuh oleh pangeran dengan penuh semangat. Di hadapan Datu Luwu diceritakannya pertemuannya dengan putri Tadampalik dan niatnya untuk memperistri sang putri. Datu Luwu sangat gembira mendengar kesembuhan puterinya. Itu artinya Tuhan pun telah merestui hubungan putrinya dengan pangeran Bone.

Sepekan kemudian dilangsungkanlah pesta pernikahan yang meriah antara putri Tadampalik dengan pangeran Bone. Akhirnya pangeran Bone memboyong putri Tadampalik ke Bone dimana mereka hidup bahagia selamanya.


3. Cerita Rakyat Pelanduk dengan Macan


Zaman dahulu kala ada seekor kerbau yang selalu dikejar oleh sang raja hutan (macan) untuk dijadikan mangsa. Setelah beberapa hari “bermain” kejar-kejaran dengan sang macan dan tidak sempat makan, maka sang kerbau pun akhirnya menghentikan larinya. Dan saat sang macan berada di hadapannya dan telah bersiap untuk menerkam, sang kerbau pun berkata, “Hai raja hutan, apakah engkau akan tetap memakanku walau dagingku tinggal sedikit?”

“Iya. Kenapa?” tanya sang macan.

“Bukankah akan lebih enak apabila engkau memakanku saat aku dalam keadaan gemuk?” kata sang kerbau.

“Hmm…seharusnya memang begitu. Tetapi aku sudah beberapa hari tidak makan. Aku lapar,” kata sang macan.

“Bukankah masih banyak binatang lain yang ada di hutan,” kata kerbau.

“Maksudmu?” tanya sang macan.

“Maksudku, biarkanlah aku makan sebanyak-banyaknya terlebih dahulu. Dan, setelah aku menjadi gemuk, engkau dapat memakanku. Pasti dagingku akan terasa enak sekali. Nah, sementara aku menggemukkan badan, engkau dapat memakan binatang lain dahulu agar engkau tidak kelaparan,” kata kerbau.

Setelah berpikir sejenak akhirnya sang macan pun berkata, “Baiklah kalau begitu. Engkau aku beri waktu selama satu tahun untuk menggemukkan badanmu. Dan setelah satu tahun engkau harus menyerahkan dirimu di tempat ini. Aku akan menunggumu!”

“Baiklah kalau begitu,” kata sang kerbau dengan senang hati karena ia masih dapat hidup sekitar satu tahun lagi.

Singkat cerita, selama hampir satu tahun sang kerbau dapat kembali hidup bebas tanpa ada seekor pun binatang yang mengganggunya. Namun beberapa hari menjelang perjanjiannya dengan sang macan berakhir, sang kerbau pun menjadi gelisah dan murung. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan hanya bisa pasrah apabila sang macan menghendaki dagingnya.

Pada saat sang kerbau sedang memikirkan nasibnya, tiba-tiba lewatlah seekor pelanduk. Sang pelanduk yang melihat kerbau sedang murung lalu menghampirinya dan bertanya, “Hai kerbau, mengapa wajahmu terlihat murung?”

“Aku sedang memikirkan nasibku yang sebentar lagi harus menjadi santapan sang macan,” jawab kerbau.

“Loh, bukankah engkau dapat melarikan diri apabila sang macan akan menerkamu?” tanya pelanduk.

“Aku tidak dapat melarikan diri darinya, karena kami telah mengadakan suatu perjanjian,” jawab sang kerbau

“Perjanjian apakah itu?” tanya pelanduk penasaran.

“Dahulu, aku pernah hendak diterkam olehnya. Namun aku berhasil membujuknya agar tidak jadi memakanku dengan alasan tubuhku masih terlalu kurus. Kemudian, aku mengusulkan agar ia memberiku waktu satu tahun untuk menggemukkan badanku. Ia pun menyetujuinya,” jawab Kerbau.

“Lalu kenapa engkau menjadi sedih? Bukankah masih ada waktu satu tahun lagi?” tanya sang pelanduk.

“Satu hari lagi perjanjian itu tepat satu tahun. Aku harus menyerahkan nyawaku kepada sang macan,” jawab kerbau dengan sedih.

Setelah berpikir sejenak, sang kancil pun berkata, “Aku dapat menolongmu asalkan engkau mau melakukannya.”

“Apapun yang kau suruh akan aku lakukan,” jawab sang kerbau dengan penuh harap.

“Engkau harus merobohkan pohon ampulajeng yang ada di sampingmu itu. Nanti apabila sang macan datang, engkau harus berada di samping pohon itu dan pura-pura tidur mendengkur. Aku yang akan menghadapi sang macan,” jawab pelanduk.

“Baiklah kalau begitu. Aku harap besok pagi-pagi sekali engkau telah berada di sini untuk menemaniku,” jawab sang kerbau.

“Ya,” jawab sang pelanduk sambil berjalan perlahan meninggalkan sang kerbau.

Singkat cerita, keesokan harinya sebelum matahari terbit mereka bertemu kembali di dekat pohon ampulajeng yang telah dirobohkan oleh kerbau. Tidak berapa lama kemudian datanglah sang macan sambil meraung-raung mencari kerbau. Ia ingin menagih janji sang kerbau yang akan menyerahkan diri untuk disantap.

Saat sang macan telah berada di dekat pohon ampulajeng, tiba-tiba muncul sang pelanduk sambil berkata, “Wah, sungguh beruntung aku hari ini. Belum lagi habis macan tua aku makan, datang lagi macan muda membawa dirinya.”

Sang Macan terkejut, lalu bertanya, “Hai, siapa engkau itu? Baru kali ini saya mendengar ada yang berani memakan macan selain La Pitunreppa Wawo Alok”.

“Saya La Pitunreppa Wawo Alok,” jawab pelanduk dengan mantap.

Mendengar kata-kata si pelanduk tersebut, sang macan langsung lari tunggang langgang meninggalkan tempat itu. Ia berlari menuju ke rumah Nenekpakande yang terkenal amat sakti.

Melihat sang macan yang terengah-engah, Nenekpakande pun berkata, “Ada apakah gerangan. Mengapa nafasmu terengah-engah hai macan?”

Tanpa berbasa-basi lagi sang macan langsung berkata, “Hai Nenekpakande, kalau engkau masih ingin hidup, marilah kita melarikan diri. Sebab, saya baru saja bertemu dengan La Pitunreppa Wawo Alok yang baru saja memakan macan tua.”

“Cih, mau saja engkau ditakut-takuti. Ayo kita kembali lagi ke sana, biar saya yang menghadapinya,” kata Nenekpakande.

“Aku sudah sangat takut untuk kembali lagi. Namun apabila engkau ingin menemuinya aku akan menunjukkan tempatnya saja,” kata sang macan sambil gemetaran.

“Eit, tidak bisa begitu. Kita harus bersama-sama agar dapat saling menjaga” kata Nenekpakande.

“Tidak. Aku takut kau akan meninggalkanku ketika telah sampai di sana,” jawab Macan.

“Jika engkau tidak percaya, ikatkan tali pinggangku ini ke tubuhmu. Kalau aku lari, lari juga engkau. Dan kalau engkau mati, aku pun akan mati,” jawab Nenekpakande.

“Baiklah kalau begitu,” jawab macan sambil mengikatkan tali pinggang milik Nenekpakande ke tubuhnya dan mereka langsung menuju ke tempat si pelanduk.

Pada waktu mereka sampai di tempat sang pelanduk, sambil berdiri di atas pohon ampulajeng sang pelanduk berkata, “Sungguh suatu kebetulan engkau datang hari ini Nenekpakande. Aku telah menunggumu dari kemarin karena engkau masih berhutang tujuh ekor macan kepadaku. Namun, mengapa engkau hanya membawa seekor hari ini?”

Mendengar kata-kata si pelanduk tersebut, sang macan menjadi marah karena mengira Nenekpakande telah mengumpankan dirinya pada La Pitunreppa Wawo Alok.

Ia pun kemudian langsung menyerang Nenekpakande sehingga terjadilah perkelahian yang sangat hebat diantara mereka berdua.

Dan, dalam perkelahian tersebut akhirnya sang macan dan Nenekpakande tewas secara bersamaan. Alhasil, sang kerbau pun akhirnya terbebas dari marabahaya dan dapat hidup dengan tenang.


4. Cerita Rakyat Kisah La Kuttu-kuttu Paddaga


Alkisah pada zaman dahulu ada seorang pemuda yang gagah dan tampan yang bernama La Kuttu-kuttu Paddaga . Ia adalah seorang yang sangat ahli bermain sepak raga, sebab pekerjaannya setiap hari tiada lain hanyalah bermain sepak raga bersama teman-temannya.

Pada suatu hari ia diajak oleh teman-temannya bertandang ke desa tetangga untuk bermain sepak raga melawan para pemuda di sana. Dan, secara kebetulan lapangan yang digunakan untuk bermain berada di dekat rumah seorang gadis penenun.

Setelah beberapa lama bermain, La Kuttu-kuttu Paddaga merasa haus. Oleh karena rumah yang terdekat dari lapangan bermain adalah rumah sang gadis penenun, maka ia segera menuju ke sana dengan maksud hendak meminta air minum.

Setelah naik ke rumah dan bertemu dengan sang gadis yang sedang menenun di serambi, La Kuttu-kuttu Paddaga lalu berkata, “Bolehkah saya meminta air barang seteguk?”

Si gadis yang waktu itu kebetulan sedang sendiri, segera menjawab, “Maaf, langsung ambil sendiri saja di dapur. Saya belum boleh keluar dari alat tenun ini, sebab benangnya baru saja dikanji.”

Setelah mendapat izin dari sang gadis, La Kuttu-kuttu Paddaga segera ke dapur untuk minum. Waktu kembali dari dapur dan melewati sang gadis, ia secara basa-basi bertanya, “Sarung siapa yang engkau tenun?”

“Ya, sarung kita,” jawab gadis penenun singkat.

“Ow. Ya sudah, terima kasih sudah memberi saya minum,” kata La Kuttu-kuttu Paddaga berpamintan untuk melanjutkan bermain sepak raga lagi.

Sambil berlalu dari rumah itu sebenarnya ia selalu mengingat kata-kata terakhir sang gadis yang menyatakan bahwa sarung itu adalah “sarung kita”. Dalam pikirannya, apabila sarung itu adalah “sarung kita”, maka sarung itu adalah sarung milik mereka berdua.

Dan, dari situlah timbul niatnya untuk mengawini sang gadis. Namun, ia tidak mempunyai uang untuk melamarnya, sebab ia tidak bekerja alias pengangguran.

Beberapa waktu kemudian, sebelum La Kuttu-kuttu Paddaga sempat mencari uang untuk meminang, tiba-tiba ada seorang pemuda kaya yang telah memiliki pekerjaan datang meminang pada orang tua si gadis.

Mendapat pinangan dari seorang pemuda kaya, tentu saja orang tua gadis itu menerimanya dengan senang hati.

Sementara si gadis yang akan dikawin sebenarnya merasa tidak suka melihat pemuda itu, sebab ia tidak gagah dan buruk rupa. Namun, karena orang tuanya memaksa, maka ia pun akhirnya mau menerimanya.

Singkat cerita, perkawinan antara si pemuda kaya dengan si gadis penenun pun dilaksanakan. Setelah kawin, karena adat istiadat waktu itu melarang pengantin baru berhubungan intim sebelum empat puluh hari perkawinan, maka mereka tidak boleh tidur sekamar hingga waktu yang ditentukan berakhir.

Beberapa hari sebelum masa pantang itu berakhir, si perempuan menyuruh adik laki-lakinya untuk menyembelih seekor ayam. Setelah ayam disembelih, ia meminta bagian tembolok ayam tersebut untuk dibawa ke kamarnya. Tembolok itu kemudian digembungkan lalu dikeringkan dan disimpan di bawah tempat tidurnya.

Ketika adat pantangan berhubungan intim telah berakhir, pada malam hari sang suami mulai masuk ke dalam kamarnya. Saat sang suami mematikan lampu dan ingin melampiaskan nafsunya, cepat-cepat si gadis mengambil tembolok kering dari bawah tempat tidurnya.

Tembolok itu kemudian diapitkan di pahanya, sehingga secara samar-samar terlihat seperti alat kelaminnya. Terkecoh melihat “alat kelamin” isterinya yang menjijikkan dan berbau sangat busuk, sang suami menjadi kaget setengah mati. Nafsu birahinya menjadi hilang seketika dan tengah malam itu juga ia pulang lagi ke rumah orang tuanya.

Sesampai di rumah, orang tuanya yang tengah tidur menjadi terkejut. Dan, dengan mata yang masih setengah terbuka, ayahnya bertanya, “Mengapa engkau pulang, nak?”

“Wah, rugi saya kawin, ayah.” Jawab si pemuda.

“Kenapa? Ada apa dengan isterimu?” Tanya ayahnya.

“Maksud saya kawin adalah untuk memperoleh keturunan. Namun, yang saya peristeri hanyalah seorang perempuan yang telah keluar poros.” Jawab anaknya.

Mendengar jawaban itu, ayahnya segera berkata, “Ya, lebih baik kau ceraikan saja isterimu itu!”

“Baiklah. Tetapi saya sudah malu untuk kembali ke sana lagi. Bagaimana kalau ayah saja yang menceraikannya untukku?” tanya si anak.

“Ya, baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan ke sana.” Jawab ayahnya.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali ayah si pemuda sudah berangkat ke rumah besannya. Setelah sampai dan bertemu besannya, tanpa berbasa-basi lagi ia langsung mengutarakan maksudnya.

Ayah si perempuan yang sebenarnya sama sekali tidak mengerti duduk persoalannya, namun ia juga tidak ingin berbasa-basi, segera saja menyetujui permintaan talak dari besannya.

Dan, saat itu juga terjadi perceraian antara si pemuda kaya dengan si perempuan penenun. Jadi, walau telah menjadi janda, perempuan penenun itu tetap seorang gadis karena belum pernah sekalipun ditiduri oleh mantan suaminya.

Setelah mantan besannya pergi, ayah si perempuan segera memanggil dan memarahinya, “Kau apakan suamimu tadi malam sehingga mertuamu begitu panas hati?”

“Mana saya tahu, ayah. Andaikata ada perkataan saya yang menyakiti hatinya, tentu ayah juga akan mendengarnya sebab kita tinggal serumah. Mungkin memang beginilah nasib apabila seorang isteri sudah tidak disukai lagi oleh suaminya.” Jawab perempuan bersandiwara.

Beberapa waktu kemudian, La Kuttu-kuttu Paddaga mendengar kabar bahwa perempuan idamannya itu telah bercerai. Untuk memastikan kebenarannya, ia pun segera bertandang ke rumah si perempuan. Sesampai di sana, ia segera mendatangi si perempuan yang waktu itu sedang menenun seorang diri.

Setelah saling berhadapan, ia langsung menanyakan perihal perceraian yang dialami si perempuan beberapa waktu yang lalu. pertanyaan itu dijawab sejujurnya oleh si perempuan dan akhirnya terjadilah percakapan yang cukup lama diantara mereka.

Dalam percakapan itu, si perempuan menjelaskan hal-ihkwal perkawinannya dengan si pemuda kaya dari awal hingga akhir.

Setelah mendapat penjelasan yang sangat lengkap dari perempuan itu, akhirnya La Kuttu-kuttu Paddaga menyatakan ingin mengawininya. Si perempuan pun setuju, namun ia baru bersedia kawin setelah masa idahnya habis, sekitar 3 bulan lagi.

Dan, selama masa idah itu La Kuttu-kuttu Paddaga diharapkan oleh sang perempuan untuk mencari uang guna membeli mas kawin. Namun, karena ia sudah berstatus janda, maka jumlah mahar atau mas kawin yang harus disediakan tidak perlu sebanyak apabila ia masih gadis.

Oleh karena jumlahnya tidak seberapa, dalam waktu singkat La Kuttu-kuttu Paddaga sudah berhasil mendapatkan uang untuk membeli mas kawin. Setelah masa idah si perempuan habis, La Kuttu-kuttu Paddaga datang pada orang tuanya dengan maksud untuk meminang anaknya.

Dan karena anaknya sudah menjadi janda, orang tuanya pun segera menerima pinangan La Kuttu-kuttu Paddaga tanpa meminta syarat yang bermacam-macam. Singkat cerita, mereka pun kemudian menikah dan hidup bahagia.

La Kuttu-kuttu Paddaga merasa bahagia karena telah berhasil mempersunting perempuan pujaannya, walau sudah menjadi janda.

Sedangkan si perempuan juga merasa bahagia karena idamannya untuk memperoleh seorang pemuda yang gagah dan tampan telah terwujud, walaupun ia harus kawin dulu dengan seorang pemuda yang buruk rupa.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.