Profil Provinsi Riau | Lambang, Sumber Daya, Perekonomian, dan Demografinya

35
Profil Provinsi Riau | Lambang, Sumber Daya, Perekonomian, dan Demografinya
uniqpost.com

Riau merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang terletak di kepulauan Sumatera dengan ibu kotanya Pekanbaru.

Riau berbatasan langsung dengan Laut Cina Selatan (Timur), Sumatera Barat dan Sumatera Utara (Barat), Jambi dan Selat Berhala (Selatan) serta Kepulauan Riau dan Selat Malaka (Utara).

Riau memiliki luas wilayah 111.228,65 km persegi dimana luas tersebut sudah termasuk Kepuluan Riau dan juga lautnya.

Provinsi Riau memiliki iklim tropis basah yang dipengaruhi oleh musim hujan dan musim kemarau.


Lambang Provinsi Riau


Provinsi Riau memiliki lambang perisai dimana di tepinya terdapat mata rantai berjumlah 45.

Di dalam perisai tersebut terdapat lukisan, padi, kapas, gelombang laut berjumlah 5, perahu lancang kuning dan juga keris berhulu kepala serindit dengan arti sebagai berikut :

  • Mata rantai 45 : tahun kemerdekaan negara Indonesia
  • Padi dan kapas : simbol kesejahteraan rakyat
  • Gelombang laut 5 : simbol Pancasila sebagai dasar negara Indonesia
  • Perahu lancang : semangat rakyat Riau dalam mencari hasil laut yang melimpah
  • Keris : kepahlawanan rakyat Riau berdasarkan kebijaksanaan dan kebenaran

Sumber Daya Alam Provinsi Riau


Kekayaan alam yang di miliki Provinsi Riau sangat banyak seperti hutan, perkebunan, minyak dan gas bumi, kekayaan sungai dan juga laut.

Sumber daya alam tersebut dimanfaatkan oleh pemerintah dengan sistem bagi hasil dengan lingkungan sekitar.


Perekonomian Provinsi Riau


Perekonomian Provinsi terdiri dari beberapa sektor antara lain :

Pertanian dan Perkebunan

Perkebunan yang paling berkembang di Provinsi Riau meliputi perkebunan sawit, karet, kelapa dan jeruk. Perkebunan tersebut ada yang dikelola oleh pemerintah maupun oleh rakyat.

Luas perkebunan sawitnya mencapai 1,34 juta hektar serta memiliki 116 pabrik pengolahan kelapa sawit yang mana mampu memproduksi Coconut Palm Oil sebanyak 3.386.800 ton per tahun.

Hutan dan Ikan

Sumber daya alam hutan Provinsi Riau termasuk ekosistemnya dimanfaatkan dengan tujuan sebagai pelindung, pelestarian keanekaragamannya serta sumber daya pembangunan.

Pertambangan

Hasil tambang yang melimpah di Provinsi Riau yaitu minyak dan gas bumi serta batubara.

Perindustrian

Kekayaan alam yang melimpah menjadikan Riau sebagai pusat industri yang mengolah beberapa hasil alam seperti Kelapa Sawit, Karet, Kayu, Plastik dan Kopra.

Selain beberapa sektor diatas, Riau juga menjadi satu – satunya provinsi yang memiliki transportasi udara yaitu PT. Riau Airline. Hal ini bertujuan untuk membantu dan menjangkau daerah – daerah yang sulit untuk diakses.


Kesenian dan Kebudayaan Provinsi Riau


Riau juga memiliki kekayaan budaya dan seni yang beragam, seperti :

  • Tarian : Tarian Serampang Dua Belas, Gamelan, Lancang Kuning, Makan Sirih, Pembubung, Zapin dan Joged Lambak.
  • Musik : Musik Kompang Bengkalis, Calempong Kampar, Berdah Rengat, Gong Tanah Sibunguik dan Gambus Melayu.

Demografi Provinsi Riau


Melengkapi kekayaan budayanya, Riau juga memiliki beragam suku, bahasa dan agama antara lain sebagai berikut :

  • Suku : Melayu, Bugis, Batak, Minangkabau, Banjar, Tionghoa, Sunda dan Jawa.
  • Bahasa : Indonesia, Minang dan Melayu.
  • Agama : Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindhu dan Konghucu.

Pendidikan di Provinsi Riau


Lembaga Universitas Riau, Universitas Islam Riau, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim, Universitas Lancang Kuning, Universitas Muhammadiyah Riau juga memiliki Politeknik Caltex Riau, lembaga pendidikan dan pelatihan lainnya.


Pemerintahan Provinsi Riau


Provinsi Riau menjadi provinsi terkaya di Indonesia berkat kekayaan alamnya. Selain itu Riau juga memiliki 12 kabupaten yaitu Bengkalis, Tembilahan, Rengat, Bangkinang, Teluk Kuantan, Pangkalan Kerinci, Bagansiapiapi, Pasir Pengaraian, Siak Sri Indrapura, Selat Panjang dan Pekanbaru.

Namun dari ke 12 kota tersebut terdapat beberapa kota besar yang terkenal berkat kekayaan alam dan juga dari segi perekonomiannya seperti Pekanbaru.

Ibu kota dari Provinsi Riau ini termasuk kota yang memiliki tingkat migrasi tertinggi.

Selain itu, menjadi juga menjadi kota dagan multi etnik yang berkembang pesat yang akhirnya justru bisa dimanfaatkan sebagai modal sosial untuk mensejahterakan masyarakatnya.

Pekanbaru juga memiliki bandara internasional yaitu Bandara Sultan Syarif Kaim II juga memiliki 2 pelabuhan yaitu Pelita Pantai dan Sungai Duku.

Kota kedua adalah Dumai. Berada sekitar 188 km dari Pekanbaru. Sektor yang berkembang di kota ini meliputi industri, perdagangan, peternakan, pertanian yang dikembangkan sebagai agrobisnis.

Ada juga budidaya tambak meliput ikan mas, gurami, patin dan hias. Untuk kelautan, Dumai memiliki komoditas unggulan ekspor seperti kakap putih, kepiting rajungan, bawal serta pemulihan hutan mangrove.

Kota ketiga yaitu Selat Panjang. Ibukota Kepulauan Meranti dan ibu kota kecamatanTebing Tinggi ini merupakan kota transit untuk trasnportasi laut dari Pekanbaru ke Batam.

Dibuka juga jalur khusus menuju Batu Pahat, Malaysia dengan jarak tempuh sekitar 1,5 – 2 jam perjalanan.

Kota Selat Panjang populer dengan sebutan Kota Sagu karena menjadi daerah terbesar penghasil sagu di Indonesia. Selain itu juga menjadi pusat budidaya sarang burung Walet yang diekspor ke Singapura dan China.

Kota keempat adalah Bagansiapiapi. Merupakan kota yng mendapat peringkat kota terbersih ke 2 di Riau. Terletak di Sungai Hokan yang mana menjadi lokasi strategis lalu lintas perdagangan internasional karena berdekatan dengan Selat Malaka.

Kota kelima yaitu Bengkalis. Berada di lokasi yang strategis karena dilewati oleh jalur perkapalan internasional menuju Selat Malaka.

Bengkalis juga merupakan penghasil minyak bumi dan gas terbesar di Riau dan di Indonesia yang mana menjadi sumber tersesar APBD nya. PT. Caltex Pacific Indonesia menjadi perusahaan yang menekplorasi minyak tersebut.

Cerita Rakyat Riau: Si Lancang

Pada zaman dahulu kala di daerah Kampar ada seorang ibu yang tinggal di sebuah gubuk tua bersama seorang anaknya yang bernama Si Lancang. Hidup mereka sangatlah miskin karena hanya bekerja sebagai buruh tani pada seorang petani kaya.

Oleh karena terus-menerus menderita kesusahan, akhirnya Si Lancang mempunyai niat untuk merantau. Ia pun kemudian meminta izin kepada ibu dan guru mengajinya. Ibunya pun memberikan izin, dengan catatan Si Lancang harus selalu ingat kepada dirinya dan kampung halamannya.

Dengan bersungguh-sungguh Si Lancang berjanji kepada ibunya. Ia lalu menyembah lutut sang ibu untuk meminta berkah sekaligus berpamitan.

Dan, sambil terharu sang ibu mendoakan dan membekalinya dengan sebungkus lumping dodak, kue kegemaran Si Lancang.

Singkat cerita, setelah bertahun-tahun merantau, ternyata Si Lancang sangat beruntung. Ia menjadi saudagar yang kaya raya yang memiliki berpuluh-puluh buah kapal dagang.

Konon, hal ini terjadi karena Si Lancang berhasil mengawini tujuh orang gadis yang seluruhnya berasal dari keluarga-keluarga saudagar kaya.

Suatu hari Si Lancang berlayar ke Andalas untuk memperluas daerah pemasaran barang agangannya. Dalam pelayaran itu ia membawa ketujuh isterinya beserta barang-barang perbekalan yang mewah dan alat-alat musik sebagai hiburan di tengah lautan.

Saat mereka merapat di palabuhan Kampar, alat-alat musik itu mulai dibunyikan dengan riuh rendah. Selanjutnya kain sutera dan aneka hiasan dari emas dan perak digelar untuk menambah kesan kemewahan dan kekayaan Si Lancang.

Berita kedatangan saudagar kaya yang bernama Si Lancang itu dengan cepat menyebar ke seantero Kampar. Sang ibu yang juga mendengar kedatangan anaknya, dengan perasaan terharu bergegas menyambutnya.

Dengan pakaian seadanya berupa kain selendang tua, sarung usang dan kebaya penuh tambalan ia pun pergi ke pelabuhan.

Namun, ketika akan menamui anak kesayangannya, para pengawal Si Lancang segera menghadang dan bermaksud hendak mengusirnya.

Perempuan itu tetap tidak mau beranjak. Ia bersikeras untuk dipertemukan dengan Si Lancang. Situasi itu akhirnya menimbulkan keributan.

Mendengar ada keributan yang terjadi antara para pengawalnya dengan penduduk lokal, Si Lancang yang diiringi oleh ketujuh isterinya segera mendatanginya.

Dan, betapa terkejutnya ia ketika menyaksikan bahwa yang sedang bertengkar dengan para pengawalnya itu tidak lain adalah ibu kandungnya sendiri.

Namun, karena ibunya berpenampilan lusuh layaknya seorang pengemis, maka Si Lancang pun segera mengusirnya. Ia malu apabila hal ini sampai diketahui oleh para isteri dan pengawalnya.

Sementara itu, si ibu yang diusir oleh anak kandungnya sendiri menjadi marah. Ia kemudian berkata, “Engkau Lancang … anakku! Tidak tahukan engkau, betapa aku sangat merindukanmu. Sekarang engkau mencampakkan aku begitu saja. Sungguh durhaka engkau padaku!”

“Mana mungkin aku mempunyai ibu sepertimu. Engkau hanyalah seorang miskin yang mengaku menjadi ibuku ,” jawab Si Lancang Dengan ketus.

“Sana pergi! Aku tidak mau melihat mukamu lagi di sini!” lanjut Si Lancang, “Pengawal, segera usir perempuan gila ini!”

Ibu yang malang itu pun akhirnya pulang dengan perasaan yang hancur. Sesampai di rumah, ia lalu mengambil pusaka yang dahulu diberikan oleh suaminya.

Pusaka itu berupa lesung penumbuk padi dan sebuah nyiru. Sambil memutar lesung dan mengipas nyiru ia berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhanku….hukumlah Si Lancang yang telah durhaka kepadaku.”

Setelah berkata demikian, beberapa menit kemudian turunlah badai topan yang sangat dahsyat. Badai yang datang dari arah lautan itu bergerak sangat cepat dan dalam sekejap saja telah menghancurkan kapal-kapal yang sedang berlabuh, tidak terkecuali kapal dagang Si Lancang yang megah.

Kapal tersebut hancur berkeping-kepung. Isi kapal beterbangan ke segala arah. Kain suteranya terbang dan jatuh di sekitar Kampar Kiri yang akhirnya menjadi negeri Lipat Kait.

Gongnya terlempar ke daerah Kampar Kanan dan menjadi Sungai Oguong. Tembikarnya melayang menjadi Pasubilah.

Sedangkan tiang benderanya terlempar hingga sampai di sebuah danau yang sekarang diberi nama Danau Si Lancang. Sementara itu, Si Lancang beserta isteri dan para pengawalnya juga terlempar ke berbagai arah di sekitar Kampar.

A Wife, Learner and Dreamer .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here