Profil Provinsi Jawa Timur | Sejarah, Logo, Hidrografi, Iklim, Suku dan Bahasanya

Jawa Timur adalah nama sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di bagian sebelah timur dari Pulau Jawa.

Provinsi yang beribukota di Surabaya ini, sebagian besar wilayahnya dibatasi dengan perairan seperti Selat Bali di sebelah timur, Samudra Hindia di bagian selatan, dan Laut Jawa di sebelah utara.

Namun, sebagian dari daerah Jawa Timur juga berbatasan dengan daratan provinsi lain yaitu, provinsi Jawa Tengah yang ada di sebelah barat.

Wilayah provinsi ini juga meliputi sejumlah pulau kecil yang berada di sekitarnya seperti Pulau Madura, Pulau Bawean, Pulau Sempu, Pulau Nusa Barung, Pulau Kangean, dan Kepualuan Masalembu.

Provinsi yang memiliki luas wilayah 47.992 km2 ini terkenal sebagai pusat perekonomian di kawasan timur dari

Negara Indonesia. Wilayah di provinsi ini cukup bervariasi karena terdiri dari dataran rendah, dataran tinggi serta pegunungan.


Logo Jawa Timur


gudrilogo.blogspot.com

Logo Provinsi Jawa Timur bentuk dasarnya adalah segi lima yang terlihat seperti perisai. Di dalam logo tersebut terdapat sejumlah simbol seperti bintang, gunung berapi, tugu pahlawan, pintu gerbang candi, sawah dan ladang, sungai, padi dan kapas, serta roda dan rantai.

Bintang yang berada di bagian atas logo melambangkan ketuhanan. Gunung berapi yang berada di bagian belakang merupakan simbol dari semangat untuk mencapai satu tujuan yaitu rakyat yang adil dan makmur.

Sementara itu, tugu pahlawan merupakan lambang kepahlawanan dari rakyat Jawa Timur yang memiliki peran besar dalam proses kemerdekaan Indonesia.

Pintu gerbang candi yang ada di dalamnya menggambarkan cita –cita perjuangan rakyat zaman dahulu dan sekarang.

Simbol-simbol lain seperti sawah dan ladang, sungai, serta padi dan kapas menggambarkan kondisi wilayah ini yang sebagian besar adalah persawahan dan banyak dialiri sungai yang menjadi sumber kemakmuran bagi masyarakatnya.

Di bawahnya terdapat simbol roda dan rantai yang berarti kekuatan. Di bagian bawah juga terdapat perisai berwarna putih dengan tulisan “Jawa Timur” dan semboyannya yaitu “Jer Basuki Mawa Beya”. Semboyan ini berarti keberhasilan membutuhkan kesungguhan.


Sejarah terbentuknya Jawa Timur

Daerah Jawa Timur ini memang sudah terkenal sejak zaman prasejarah. Hal ini tentu karena ditemukannya beberapa fosil manusia prasejarah di daerah Mojokerto, Ngawi, dan Wajak. Selain itu, daerah ini juga berhubungan dengan dengan sejarah dari berbagai kerajaan di Indonesia zaman dahulu seperti kerajaan Mataram, Kerajaan Singasari, dan Kerajaan Majapahit.

Bukti berkembangnya islam ke kawasan ini pun bisa dilihat dari sebuah makam yang tertanda tahun 1102 di daerah gresik. Daerah Surabaya sempat jatuh ke pemerintah Belanda pada masa kolonialisme.

Daerah ini pun sempat menerapkan sistem karesidenan di bawah pimpinan Satmford Raffles. Dengan merdekanya Indonesia dari penjajahan, maka Jawa Timur ini berdiri menjadi sebuah provinsi.


Hidrografi Provinsi Jawa Timur

Di provinsi ini mengalir dua buah sungai utama yaitu Sungai Brantas dan Sungai Bengawan Solo.

Sungai Brantas yang bermata air di Gunung Arjuno bermuara di Selat Madura sedangkan Sungai Bengawan Solo yang bermata air di Gunung Lawu bermuara di pearairan daerah Gresik.

Wilayah ini juga memiliki danau alami yang cukup populer yaitu Telaga Sarangan.

Selain itu, ada juga beberapa bendungan yang dimanfaatkan untuk berbagai macam kepentingan seperti pengairan sawah, budidaya ikan , dan obyek wisata seperti contohnya bendungan Selorejo.


Gunung Berapi Provinsi Jawa Timur


Jawa Timur juga adalah wilayah yang memiliki rangkaian gunung berapi. Dari sekian banyak gunung api yang ada Gunung Lawu, Gunung Wilis, Gunung Anjasmoro, Gunung Kawi, Gunung Semeru, dan Gunung Bromo merupakan gunung yang dikenal oleh banyak orang.

Daerah ini juga memiliki kawasan pengunungan yaitu Pegunungan Iyan, Pegunungan Ijen, dan Pegunungan Kapur Selatan.


Iklim Provinsi Jawa Timur

Sedikit berbeda dengan daerah lainnya di Pulau Jawa yang umumnya tropis, daerah Jawa Timur ini iklimnya adalah tropis basah dengan curah hujan yang juga lebih sedikit. R

ata-rata curah hujan yang ada di sini hanya 1.900 mm setiap tahunnya sehingga musim hujannya hanya berlangsung sekitar 100 hari.

Sementara itu, suhu rata-rata setiap harinya berada di antara 21-34 derajat Celcius. Suhu ini bisa turun jika memasuki kawasan pegunungan.


Bahasa Provinsi Jawa Timur


Sebagai bahasa resmi provinsi ini tetap menggunakan Bahasa Indonesia. Namun, bahasa yang dipakai untuk komunikasi sehari-hari adalah Bahasa Jawa.

Bahasa Jawa yang dipakai di sini juga memiliki dialek yang beragam. Tetapi pada umumnya, bahasanya merakyat dan informal.

Beberapa dialek yang sering dipakai misalnya Suroboyoan, Mataraman, dan Malangan.

Ada juga Bahasa Madura yang memang dipakai dalam keseharian suku Madura dan masyarakat daerah lain yang terletak di sekitar Pulau Madura.

Selain itu, ada Bahasa Osing yang memang digunakan oleh suku Osing dan Bahasa Tengger yang dituturkan oleh masyarakat suku Tengger yang ada di kaki Gunung Bromo.

Suku Provinsi Jawa Timur


Sebagian besar penduduk provinsi ini adalah Suku Jawa yang populasinya hampir tersebar merata di berbagai daerah.

Selain itu, ada juga suku Madura yang menghuni Pulau Madura. Tetapi, suku ini juga bisa dijumpai di sejumlah daerah seperti di Tapal Kuda.

Ada juga Suku Bawean yang memang sebagian besar merupakan penduduk asli Pulau Bawean. Ada juga Suku Osing yang mendiami daerah Banyuwangi dan Suku Samin yang berada di daerah Bojonegoro. Di daerah Banyuwangi anda juga bisa menjumpai Suku Bali.

Di Jawa Timur, anda juga bisa dengan mudah menemukan orang-orang Tionghoa yang cukup besar populasinya di sejumlah tempat. Anda juga bisa menjumpai orang-orang Arab meskipun tergolong sebagai minoritas.


Cerita Rakyat Jawa Timur


1. Legenda Telaga Pasir

Pada zaman dahulu di satu daerah hutan Gunung Lawu dahulu hidup sepasang suami-isteri yang bernama Kyai Pasir dan Nyai Pasir.

Mereka tinggal dalam sebuah pondok sederhana berdinding kayu dan beratap dedaunan di sekitar lereng gunung tersebut.

Suatu hari Kyai Pasir pergi ke hutan di sekitar Gunung Lawu untuk membuka ladang dan bercocok tanam.

Setelah sampai di lokasi yang dianggap cocok Kyai Pasir mulai membersihkan ladang dengan cara menebangi pepohonan dan semak belukar yang ada di tempat itu.

Pada saat hendak menebang sebuah pohon yang berukuran besar, Kyai Pasir terkejut karena melihat ada sebutir telur berada di sekitar akarnya.

Diamatinya telur itu sejenak sambil bertanya dalam hati, “mengapa ada telur di tempat ini, padahal tidak ada seekor unggas pun yang berkeliaran”. Tanpa berpikir panjang lagi, Kyai Pasir segera mengambil telur itu untuk dibawa pulang dan diberikan kepada isterinya.

Sesampai di rumah Kyai Pasir langsung memberikan telur itu kepada isterinya untuk dimasak. Sang isteri kemudian merebus dan membelahnya menjadi dua bagian, setengah untuk dirinya dan setengah lagi untuk Kyai Pasir.

Tidak berapa lama setelah memakan habis telur misterius tersebut Kyai Pasir dan Nyai Pasir merasakan tubuhnya tidak nyaman. Badan mereka terasa panas, mata berkunang-kunang, dan keringat dingin mengucur deras.

Mereka pun secara refleks langsung berguling-guling di tanah agar rasa sakitnya segera reda. Namun, semakin mereka berguling rasa sakit yang tiba-tiba itu semakin bertambah.

Beberapa menit kemudian, secara gaib tiba-tiba tubuh mereka mulai berubah wujud menjadi seekor naga yang sangat besar, bersungut, dan terlihat sangat menakutkan.

Kedua orang yang telah berubah menjadi naga itu tetap berguling kesana-kemari hingga menyebabkan tanah di sekitarnya menjadi berserakan dan membentuk sebuah cekungan besar yang makin lama makin luas dan dalam.

Dan, cekungan itu akhirnya menjadi sebuah telaga yang oleh masyarakat sekitar disebut sebagai Telaga Pasir.

2. Cerita Rakyat Madura: Legenda Arya Menak

Zaman dahulu kala di Pulau Madura hiduplah seorang pemuda yang bernama Arya Menak.

Pemuda ini sangat gemar mengembara hingga ke tengah hutan belantara. Dalam pengembaraannya pada suatu malam saat bulan purnama, dia beristirahat di bawah pohon dekat sebuah danau yang jernih arinya.

Saat itu ia melihat sebuah cahaya terang yang berpendar di tepi danau tersebut. Karana penasaran, perlahan-lahan ia mendekati sumber cahaya tadi.

Dan, alangkah terkejutnya dia ketika melihat bahwa cahaya tadi berasal dari pantulan tubuh tujuh orang bidadari yang sedang mandi sambil bersenda gurau.

Arya Menak pun langsung terpesona akan kecantikan mereka. Timbullah keinginannya untuk memiliki salah seorang diantaranya.

Ia lalu berjalan mengendap-endap ke arah tumpukan pakaian para bidadari yang diletakkan begitu saja di bawah sebuah pohon. Kemudian, dengan secepat kilat Aryo Menak mengambil salah satu selendang dari bidadari-bidadari itu.

Selepas mandi, ketujuh bidadari itu segera bergegas keluar dari telaga untuk mengambil pakaian masing-masing. Setelah berpakaian mereka langsung terbang menuju langit ke tujuh.

Namun, ada satu bidadari yang tidak dapat terbang karena selendang yang biasa digunakan untuk terbang tidak ada di tempatnya lagi.

Sang bidadari yang ditinggal oleh kakak-kakaknya itu lantas duduk terpekur di bawah pohon sambil menangis. Ia sangat bersedih karena tidak dapat lagi terbang ke rumahnya.

Arya Menak yang dari tadi mengintip di balik semak-semak perlahan-lahan mendekatinya. Ia berpura-pura tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. S

etelah mendapat penjelasan singkat dari sang bidadari, Arya Menak segera berkata, “Ini mungkin memang sudah menjadi kehendak para dewata agar engkau berdiam di bumi untuk sementara waktu. Jadi, janganlah engkau bersedih hati. Aku akan selalu menemani dan menghiburmu.”

Sang bidadari rupanya percaya dengan ucapan Arya Menak. Ia tidak menolak ketika Arya Menak menawarkan untuk tinggal di rumahnya.

Singkat cerita, beberapa bulan kemudian Arya Menak melamar sang bidadari. Mereka kemudian hidup sebagai pasangan suami isteri.

Oleh karena bukan seorang manusia biasa, maka sang bidadari tentu saja mempunyai kekuatan gaib. Salah satu contohnya, ia dapat menanak sepanci nasi hanya dari sebutir beras.

Namun syaratnya, ketika akan menanak nasi siapapun tidak ada yang boleh menyaksikannya, termasuk Aryo Menak suaminya sendiri.

Dikisahkan, Arya Menak penasaran sebab beras di lumbungnya tidak bernah berkurang meskipun selalu diambil untuk dijadikan makanan.

Ketika isterinya sedang mencuci pakaian di sungai, Arya Menak langsung masuk ke dapur untuk membuka panci tempat isterinya biasa menanak nasi.

Tindakan ini ternyata membuat kekuatan gaib isterinya menjadi lenyap. Mulai saat itu, Sang Bidadari harus mengambil beras dalam jumlah banyak di lumbung. Lama-kelamaan beras di dalam lumbung menjadi berkurang.

Suatu hari, sang bidadari menjadi terkejut ketika akan mengambil beras yang hanya tersisa sedikit lagi di sudut lumbung. Ia melihat selendangnya yang hilang tersembul di bawah tumpukan beras.

Ia lalu mengambil dan segera mencucinya. Setelah itu, sang bidadari langsung mengenakan selendangnya dan terbang ke langit.

Saat Arya Menak pulang ke rumah, ia menjadi bingung karena isterinya tidak ada dan makanan pun belum disediakan. Ia lalu mencari ke sekeliling rumahnya. Pada saat berada di lumbungnya, Arya Menak menjadi sangat terkejut.

Selendang milik isterinya yang selama ini ia sembunyikan di sudut lumbung telah raib dari tempatnya. Arya Menak akhirnya sadar bahwa sang bidadari telah menemukan selendangnya dan terbang kembali ke langit.

Ia sangat menyesal. Dan, sejak saat itu Arya Menak bersumpah bahwa ia dan seluruh keturunannya akan berpantang untuk memakan nasi.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.