Profil Provinsi Kalimantan Barat | Batas Wilayah, Iklim, Etnis, Bahasa, Agama dan Budayanya

34
Profil Provinsi Kalimantan Barat | Batas Wilayah, Iklim, Etnis, Bahasa, Agama dan Budayanya
uniqpost.com

Negara Indonesia terdiri dari 34 provinsi. Salah satunya adalah Provins Kalimantan Barat yang secara geografis terletak di Pulau Kalimantan. Provinsi ini beribu-kota di Pontianak dengan luas wilayah 146.807 km persegi.

Provinsi Kalimantan Barat dilihat dari luasnya menduduki posisi keempat di Indonesia tepatnya setelah Papua, Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah.

Secara geografis, provinsi Kalimantan Barat memiliki ratusan sungai baik sungai besar maupun sungai kecil.

Meski jalur infrastruktur darat sudah membaik dan bisa dimanfaatkan, beberapa sungai masih dipakai sebagai jalur transportasi di daerah pedalaman.

Karena sungainya berjumlah ratusan, Provinsi Kalimantan Barat dijuluki dengan Provinsi Seribu Sungai.

Salah satu tepian provinsi Kalimantan Barat berbatasan dengan Serawak, Malaysia.

Kalimantan Barat selain kaya akan perairan laut juga memiliki banyak pulau baik pulau besar maupun kecil yang tergelar di sepanjang Selat Karimata dan juga Laut Natuna. Laut ini berbatasan langsung dengan Kepulaun Riau.

Menurut sensus penduduk yang dilakukan pemerintah pada tahun 2004, provinsi Kalimantan Barat dihuni oleh 1.85% dari total penduduk Indonesia atau sebanyak 4.073.304 jiwa.

Gubernur provinsi Kalimantan Barat mengatur 12 kabupaten dan juga 2 kota di Provinsi Kalimantan Barat.


Batas Wilayah Provinsi Kalimantan Barat


Provinsi Kalimantan Barat di sebelah utara berbatasan dengan Sarawak, Malaysia Timur. Sebelah selatan berbatasan dengan Laut Jawa.

Sebelah barat dengan Laut Natuna, Selat Karimata dan juga Semenanjung Malaysia sedangkan di Sebelah Timur berbatasan langsung dengan provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Tidak heran jika secara logat, sebagian penduduk Kalimantan memiliki dialek seperti logat Malaysia.


Iklim Provinsi Kalimantan Barat


Provinsi Kalimantan Barat beriklim tropis basah. Curah hujan yang turun merata sepanjang tahun dan puncaknya adalah pada bulan Januari dan oktober.

Selain itu, suhu di provinsi ini tergolong panas yakni dengan kisaran antara 26-27 derajat celcius dengan kelembaban udara mencapai 90 %. Salah satu penyebanya adalah lokasinya yang terletak cukup dekat dengan daerah katulistiwa.


Pencaharian Provinsi Kalimantan Barat


Pencaharian yang sangat berpotensi untuk dikembangkan di Kalimantan Barat adalah pertanian dan juga perkebunan.

Hasil pertanian meliputi padi, jagung, kedelai, dan lain sebagainya sedangkan untuk hasil perkebunan yang dominan adalah karet, kelapa sawit dan juga lidah buaya.

Baik hasil perkebunan maupun pertanian di provinsi ini di ekspor ke negara asing. Berdasarkan data yang diperoleh pada bulan Oktober tepatnya tahun 2012, perkebunan sawit di Provinsi Kalimantan Barat luasnya telah mencapai 1.060.000 hektar yang berlokasi baik di area budidaya dibawah pengawasan pemerintah maupun di daerah produksi yang dapat dikonversi.


Etnis di Kalimantan Barat


Ada lima etnis mayoritas yang berdomisili di provinsi Kalimantan Barat. Pertama adalah etnis Dayak yang merupakan etnis mayoritas dengan jumlah keseluruhan mencapai 34.93 %. Kedua adalah etnis melayu yang memiliki logat yang khas dengan cengkok melayu yang unik.

Etnis yang juga banyak ditemui di Malaysia ini berjumlah 33.84% di Kalimantan Barat. Ketiga adalah etnis jawa.

Seperti yang kita tahu bahwa Pulau Jawa adalah pulau yang padat penduduk dan sebagian besar masyarakatnya memilih untuk transmigrasi demi memperbaiki status ekonomi.

Salah satu provinsi tujuan transmigrasi adalah Kalimantan Barat dengan total etnis jawa mencapai 9.74%. Keempat adalah etnis Tinghoa sebanyak 8.17% yang tersebar luas di kota Pontianak dan kota Singkawang.

Terakhir adalah etnis Madura yang berbasis di Kubu Raya dan Pontianak dengan jumlah total etnisnya adalah 6.27%.

Selain kelima etnis mayoritas tersebut, adapula etnis-etnis kecil seperti Bugis, Sunda, Batak, Banjar dan lain sebagainya.


Bahasa Provinsi Kalimantan Barat


Dalam keseharian, masyarakat di Provinsi Kalimantan Barat menggunakan bahasa Indonesia untuk komunikasi.

Umumnya, bahasa ini dipakai pada masyarakat perkotaan sedangkan pada masyarakat pedalaman lebih banyak memakai Bahasa Melayu yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu melayu Sambas, Melayu Pontianak dan juga Senganan.

Penelitian membuktikan bahwa ada lebih dari 188 dialek yang dituturkan baik oleh suku Dayak maupun Tionghoa.

Diantara ketiga kategori bahasa melayu tersebut, bahasa melayu Pontianak adalah yang paling mirip dengan bahasa Melayu Serawak dan juga Riau.


Agama Provinsi Kalimantan Barat


Mayoritas agama yang dianut masyarakat di Provinsi Kalimantan Selatan adalah 59.22% Islam. Penganut agama Islam utamanya tersebar di daerah Kayong Utara, Kubu Raya, Kapuas Hulu, Kota Pontianak, Sambas, Mempawah, dan juga Ketapang.

Selain kota-kota tersebut, Kota Singkawang dan juga Kota Melawi 50% didominasi oleh pemeluk Agama Islam.

Agama Islam memang banyak dianut oleh suku Dayak dan Melayu di Provinsi ini, penganut agama Islam yang berasal dari etnis lain adalah seperti Suku Jawa, Bugis, dan Madura.

Untuk daerah pedalaman yang mayoritas dihuni oleh Suku Dayak umumnya memeluk agama Kristen baik Katolik maupun Protestan.

Sebagian besar dari mereka mendiami kota Landak, Sangkau, Sintang, Sekadau dan juga Bengkayang.

Agama lain dianut oleh etnis Tionghoa yang memeluk agama Budha dan juga Kristen. Etnis Tionghoa tersebut umumnya berdomisili di Kota Singkawang dan Kota Pontianak dengan jumlah penganut agaman Budha yang sangat besar.


Budaya Provinsi Kalimantan Barat


Dari segi Budaya, Anda bisa menyaksikan berbagai macam pertunjukan dan juga artefak budaya yang khas Provinsi Kalimantan Selatan, antara lain:

  • Tarian-tarian adat meliputi Tari Monong, Pingan, Pedang, Jonggan, tari Kondam, Uut Danum dan Japin.
  • Alat music tradisional meliputi Gong, Tawak, Sapek, Balikan, Kangkuang, Keledik, Rebab, dan Terah Umat.
  • Senjata yang dipakai pada masa dahulu bernama Mandau, Tombak, Keris, Senapang Lantak, Duhung, Isou Bacou, Lunjuk, serta Nyabor.
  • Sastra lisan meliputi Bekana, Bejandeh, dan Nyangahatn.
  • Tenun dengan jenis-jenis Tenun daerah Sambas, Tenun Belitang, tenun Ensaid Panjang dan Tenun Kapuas Hulu
    Kerajinan tangan seperti tikar lampit, bidai, ukir-ukiran, kacang uwori, dan juga takui darok.

Cerita Rakyat dari Kalimantan Barat: Semangka Emas

Pada zaman dahulu kala di daerah Sambas hidup seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai dua orang anak laki-laki yang diberi nama Muzakir dan adiknya bernama Dermawan.

Sesuai dengan namanya Muzakir sangatlah tamak dan kikir. Setiap hari kerjanya hanya menumpuk kekayaan dan tidak peduli pada orang-orang miskin yang hidup disekitarnya.

Sebaliknya, Dermawan tidak rakus akan uang dan kemewahan serta selalu bersedekah pada para fakir miskin.

Suatu hari, sang saudagar membagi rata hartanya pada kedua anaknya, Muzakir dan Dermawan. Maksudnya, adalah agar kalau dia meninggal nanti kedua anaknya tidak akan saling iri dan memperebutkan harta kekayaannya.

Ketika harta telah dibagikan, karena kikir, Muzakir langsung membeli sebuah peti besi dan menaruh uang bagiannya ke dalam peti tersebut lalu dikunci rapat-rapat.

Jika ada orang yang meminta bantuan keuangan, bukannya memberi malah menyuruh penjaganya untuk mengusir orang tersebut.

Lain halnya dengan Dermawan yang selalu menyambut dengan senang hati orang-orang miskin yang ingin meminta bantuannya. Mereka selalu dijamu dengan makanan dan sebelum pulang diberi sedikit uang untuk bekal hidup.

Hal ini membuat harta Demawan cepat habis alias bangkrut sehingga tidak mampu lagi membiayai operasionalisasi rumahnya yang besar.

Dermawan akhirnya pindah ke rumah yang lebih kecil dengan fasilitas cukup sederhana. Namun, dia tetap senang dengan hidup yang demikian.

Suatu ketika, saat Dermawan duduk di teras rumahnya untuk melepas lelah, tiba-tiba jatuhlah seekor burung pipit. Karena penasaran, Dermawan lalu mengambil burung pipit tersebut untuk memeriksa keadaannya.

Setelah diperiksa, ternyata sayapnya patah sehingga sulit untuk terbang lagi. Dermawan lalu membawanya ke dalam rumah untuk diobati dengan cara membalut salah satu sayapnya agar dapat tersambung lagi.

Beberapa hari kemudian, sang pipit mulai dapat mengibas-ngibaskankan sayapnya. Dan setelah merasa sembuh, ia pun terbang kembali seperti biasanya.

Keesokan harinya sang pipit datang lagi pada Dermawan sambil membawa sebutir biji tanaman di paruhnya.

Mungkin biji itu adalah sebagai ungkapan terimakasih pada Dermawan yang telah sudi menolong dan merawatnya hingga sembuh. Oleh Dermawan, biji itu lalu dibawa ke pekarangan belakang rumahnya untuk ditanam.

Tidak sampai seminggu kemudian, biji pemberian burung pipit tumbuh menjadi sebuah pohon semangka. Karena dirawat setiap hari, pohon semangka tumbuh besar dan banyak bunganya.

Berdasarkan banyaknya bunga yang tumbuh, Dermawan mengira kalau pohon itu akan berbuah banyak sehingga ia dapat menyedekahkan sebagian buahnya bagi kaum miskin yang tinggal di sekitarnya.

Tetapi anehnya, dari sekian banyak bunga tersebut hanya satu bunga saja yang akhirnya menjadi buah dengan ukuran luar biasa besar, jauh lebih besar dari semangka pada umumnya.

Setelah dirasa cukup masak, Dermawan berusaha memetiknya. Namun, karena ukurannya yang luar biasa, dia harus bersusah payah dahulu untuk dapat memetik dan membawanya ke dalam rumah.

Ketika telah berada di rumah, Dermawan segera membelahnya menggunakan pisau. Dan, alangkah terkejutnya dia ketika semangka terbelah yang tampak bukanlah daging buah berwarna merah, melainkan emas murni dalam bentuk butiran pasir berwarna kuning.

Dermawan langsung berlari kegirangan keluar untuk menemui burung pipit yang setiap hari bertengger di depan rumahnya.

“Terima kasih burung pipit! Terima kasih,” teriak Dermawan kegirangan.

Sang burung hanya mencicit sebagai tanda balasan lalu terbang tanpa pernah kembali lagi.

Selanjutnya, butiran emas murni itu ditampung Dermawan dalam sebuah karung untuk dijual di pasar. Hasil penjualannya dibelikan sebuah rumah besar dengan pekarangan luas sekali dan juga sebuah kebun untuk bercocok tanam mencari nafkah.

Lama-kelamaan usaha Dermawan maju sehingga dapat bersedekah lagi pada orang-orang miskin yang tinggal di sekitarnya.

Kebangkitan usaha Dermawan rupanya membuat sang kakak iri hati. Muzakir lalu pergi ke rumah adiknya untuk mengetahui bagaimana Dermawan dapat kembali makmur seperti ketika baru mendapat harta warisan dari orang tua.

Oleh karena Dermawan orang yang jujur, tanpa harus didesak dia pun lantas menceritakan seluruh peristiwa yang membuatnya dapat kembali bangkit dari keterpurukan.

Setelah mendapatkan informasi lengkap dari Dermawan, Muzakir langsung pulang dan memerintahkan para bawahannya mencari burung yang sayap atau kakinya patah. Namun hingga satu minggu pencarian, tak seekor burung malang pun yang berhasil ditemukan.

Muzakir yang cepat putus asa segera membuat jalan pintas dengan memerintahkan seorang bawahannya untuk menangkap burung menggunakan apitan. Walhasil, seekor burung pipit pun dapat tertangkap dengan sayap patah terkena apitan.

Muzakir segera membawa burung itu untuk dirawat dan diobati seperti Dermawan merawat dan mengobati burung pipit yang memberinya emas.

Tetapi perawatan yang diberikan Muzakir bukanlah atas dasar belas kasihan yang tulus, melainkan karena ingin memperoleh pasir emas seperti yang didapatkan Dermawan.

Beberapa hari kemudian sayap burung telah pulih dan segera dilepaskan kembali dengan harapan si burung berterima kasih dan memberinya sebutir biji semangka.

Perkiraan Muzakir ternyata benar adanya karena keesokan harinya sang burung datang dengan membawa sebutir biji semangka. Muzakir menerima biji itu dengan sangat gembira dan langsung menanamnya di kebun.

Singkat cerita, biji pun tumbuh menjadi pohon semangka yang berdaun rimbun, berbunga banyak walau akhirnya hanya satu saja yang tumbuh besar melebihi buah yang dihasilkan dari pohon semangka milik Dermawan.

Ketika dipanen, karena ukurannya sangat besar dibutuhkan dua orang bawahan Muzakir untuk memetik dan membawanya ke dalam rumah.

Muzakir yang sudah tidak sabar lagi segera mengambil parang untuk membelah semangka yang telah ditelakkan oleh bawahannya di atas meja.

Namun, baru saja semangka itu terbelah, bukanlah pasir emas yang keluar, melainkan lumpur hitam bercampur kotoran yang menyembur ke muka hingga pakaian Muzakir serta permadani mahal yang ada di ruangan itu.

Muzakir pun kaget dan langsung berlari ke jalan raya sambil menjerit-jerit sehingga orang-orang yang melihatnya menjadi tertawa terbahak-bahak sambil bertepuk tangan dengan riuhnya.

A Wife, Learner and Dreamer .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here