Profil Lengkap Provinsi DKI Jakarta | Sejarah, Letak Geografis dan Pariwisatanya

71
Profil Lengkap Provinsi DKI Jakarta | Sejarah, Letak Geografis dan Pariwisatanya
nasionalpos.com

Profil provinsi DKI Jakarta yang merupakan ibu kota Negara Indonesia sangat penting untuk diketahui terutama bagi masyarakat Indonesia yang ingin mengetahui segala hal terkait dengan kota metropolitan ini.

DKI Jakarta adalah salah satu kota di Negara Indonesia yang berada di pesisir bagian barat laut Pulau Jawa.

Jakarta sendiri sebelumnya dikenal dengan berbagai nama yakni Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, dan Djakarta. Sunda Kelapa yaitu sebutan untuk Kota Jakarta sebelum tahun 1527.

Setelah tahun 1527 hingga 1619 Jakarta dikenal dan disebut dengan nama Jayakarta. Pada tahun 1619 sampai tahun 1942 Jakarta berganti nama menjadi Batavia.

Djakarta adalah sebutan selanjutnya untuk Kota Jakarta pada tahun 1942 hingga 1972.

Kota yang mempunyai status setingkat dengan provinsi ini memiliki luas wilayah kurang lebih sebesar 661,62 kilometer persegi. Untuk jumlah kabupaten yang ada di Kota Jakarta sebanyak enam kota atau kabupaten.

Besarnya jumlah penduduk yang tinggal di Kota Jakarta sangatlah banyak hingga mencapai dua puluh delapan juta jiwa.

Banyaknya jumlah penduduk di kota metropolitan tersebut menempati urutan keenam pada peringkat dunia.


Sejarah DKI Jakarta


Profil provinsi DKI Jakarta bisa dilihat dari sejarah Kota Jakarta yang menjadi pusat pemerintahan dari Negara Indonesia.

Kota yang menjadi saksi bisu Proklamasi Kemerdekaan Negara Indonesia ini telah berganti nama beberapa kali dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga sekarang dikenal dengan Jakarta.

Berikut ini sejarah singkat pergantian nama kota ini mulai dari Sunda Kelapa, Jayakarta, Batavia, hingga menjadi Jakarta:

1. Sunda Kelapa (Sebelum Tahun 1527)

Pemerintahan Raja Purnawarman meninggalkan empat prasasti yang berkaitan dengan kerajaan Tarumanegara.

Nama Sunda Kelapa ditemukan pada salah satu prasasti tersebut yaitu pada prasasti kebon kopi.

2. Jayakarta (Tahun 1527-1619)

Jayakarta merupakan nama yang diberikan oleh Fatahillah setelah berhasil merebut Sunda Kelapa dari tangan Raja Sangiang Surawisesa.

Fatahillah sendiri adalah panglima perang berasal dari Gujarat India yang telah menjatuhkan pemerintahan Raja Pakuan Pajajaran di tahun 1527 tanggal 22 Juni.

Jayakarta diislamkan dan dikuasai oleh Banten setelahnya, sedangkan masyarakat Sunda yang mana sebelumnya menduduki Jayakarta mundur ke Bogor.

Pemerintahan Banten yang berasal dari orang Demak serta Cirebon bertahan hingga abad ke enam belas. Pata tahun 1619 Jan Pieterszoon Coen menyerang wilayah Jayakarta dan berhasil merebut wilayah tersebut.

3. Batavia (1619-1942)

Batavia berasal dari nama suku Batavia yang merupakan sebutan untuk suku Jermanik yang tinggal di sekitar Sungai Rhein.

Suku Batavia yang dikenal pada masa Kekaisaran Romawi ini dipercaya sebagai nenek moyang dari Bangsa Belanda dan Jerman.

Batavia juga dijadikan nama kapal buatan VOC Belanda yang dibuat pada tanggal 29 Oktober 1628. Kapal dengan layar tiang tinggi ini dinahkodai oleh Kapten Adriaan Jakobsz yang kemudian tenggelam di pesisir Beacon Island Australia Barat.

Seluruh awak kapal yang jumlanya mencapai 268 orang lalu berlayar dengan perahu kecil menuju kota Batavia. Nama Jayakarta sendiri tidak jelas apakah berasal dari nama suku Batavia atau dari kapal VOC.

Namun, Jayakarta diganti nama menjadi Batavia oleh Pieterszoon Coen setelah berhasil merebut Jayakarta dari tangan Kesultanan Banten.

4. Djakarta atau Jakarta (1942-Sekarang)

Djakarta merupakan nama yang diberikan oleh Jepang pada tahun 1942 sebagai strategi untuk menarik hati penduduk pada masa pendudukan Jepang.

Djakarta selanjutnya berada di tangan Belanda hingga Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilangsungkan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Namun, pengakuan kedaulatan Negara Indonesia baru diakui pada tahun 1949. Kota yang menjadi tempat saksi proklamasi ini menjadi bagian dari Provinsi Jawa Barat hingga tahun 1959.

Setelah tahun 1959 Ibu Kota Negara Indonesia ini diubah menjadi daerah tingkat satu yang tidak lagi dipimpin oleh Wali Kota tetapi oleh Gubernur.

Gubernur Jakarta yang pertama diangkat dan dilantik langsung oleh Presiden Soekarno yakni Soemarno Sosroatmodjo.

Soemarno Sosroatmodjo adalah seorang dokter tentara yang memimpin Kota Jakarta hingga diubah menjadi Daerah Khusus Ibukota atau DKI pada tahun 1961.


Letak Geografis DKI Jakarta


DKI Jakarta berada di dataran rendah yang memiliki ketinggian hanya delapan meter dari permukaan laut.

Kota yang memiliki curah hujan tinggi ini terletak di Pulau Jawa tepatnya di bagian utara pada sekitar muara Ciliwung Teluk Jakarta. Jakarta berbatasan dengan Provinsi Jawa Barat pada sebelah timur dan selatan.

Sedangkan disebelah Barat wilayah Jakarta berbatasan langsung dengan Provinsi Banten. Jakarta juga memiliki Kepulauan Seribu yang berjumlah 105 pulau dan terletak di Teluk Jakarta.

Kepulauan Seribu saat ini dijadikan sebagai kabupaten administratif yang berada sekitar empat puluh lima kilometer di sebelah utara kota Jakarta.

Selain itu, Jakarta mempunyai tiga belas sungai yang melintasi wilayah kota dan seluruhnya bermuara di Teluk Jakarta.

Sungai Ciliwing adalah salah satu sungai yang ada di Jakarta dan membelah wilayah Ibukota Negara Indonesia menjadi dua bagian.

Banyaknya sungai yang ada di Jakarta memang menjadi keuntungan tetapi juga menimbulkan kerugian seperti bencana banjir yang sering terjadi di kota ini.

Tingginya curah hujan dan rendahnya ketinggian daratan juga menjadi peyebab lain sering terjadinya banjir di beberapa wilayah di Jakarta.


Pariwisata DKI Jakarta


DKI Jakarta adalah salah satu kota yang banyak dikunjungi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Kota yang satu ini memang patut dikunjungi karena memiliki berbagai tempat wisata menarik.

Tempat wisata di Jakarta yang banyak dikunjungi oleh wisatawan antara lain Pulau Seribu, Taman Mini Indonesia Indah, Kebun Binatang Ragunan, dan Taman Impian Jaya Ancol.

Selain itu, Jakarta juga menawarkan berbagai tempat bersejarah yang dapat dikunjugi seperti Museum Fatahillah, Museum Gajah, dan Monumen Nasional.

Tidak hanya itu saja, kota metropolitan yang satu ini juga sudah memiliki berbagai hotel ataupun penginapan yang dapat digunakan untuk menginap bagi yang sedang ataupun ingin berkunjung di Jakarta.

Nah, bagi yang ingin mengunjungi Jakarta ataupun ingin mengenal Ibu Kota dari Neraga Indonesia ini bisa membaca profil provinsi DKI Jakarta.


Cerita Rakyat dari DKI Jakarta


Dibawah ini adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah DKI Jakarta. Ingin tahu cerita nya seperti apa? Yuk, simak selengkapnya.

1. Murtado Macan Kemayoran

Zaman dahulu ketika Kompeni Belanda masih berkuasa di Indonesia, di daerah Kemayoran tinggallah seorang pemuda bernama Murtado.

Ia adalah seorang pemuda yang tidak sombong, hormat kepada orang tua dan senantiasa bersedia menolong siapa saja yang sedang mengalami kesusahan.

Dalam kehidupan sehari-hari dia selalu tekun menuntut ilmu agama dan mempelajari ilmu bela diri yang diyakininya dapat membawa kebaikan bagi dirinya.

Murtado tinggal dalam sebuah kampung di daerah Kemayoran yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan pedagang. Pada masa itu kehidupan warga masyarakat kampung tersebut sangat tidak tenteram.

Mereka selalu diliputi rasa ketakutan akibat gangguan dari para jagoan Kemayoran yang berwatak jahat yang sering datang untuk mengacau, merampas harta benda, atau bahkan tidak segan-segan membawa lari anak perawan atau isteri orang untuk kemudian diperkosa dan disiksa atau dibunuh.

Selain gangguan dari para centeng tersebut, ada lagi gangguan yang datangnya dari kompeni Belanda. Penguasa asing ini menetapkan segala macam aturan yang menyengsarakan rakyat, seperti meminta pajak yang tinggi dan mewajibkan rakyat untuk menjual hasil buminya kepada Kompeni dengan harga yang sangat murah.

Bahkan, mereka pun juga ada yang diperas oleh para tuan tanah bangsa Belanda dan Cina yang memungut sewa tanah ataupun rumah dengan semaunya saja.

Lebih celaka lagi, para penguasa lokal yang disokong oleh Kompeni pun turut berbuat hal yang sama terhadap rakyat.

Mereka sering meminta pajak dengan semena-mena, merampas harta, serta menculik isteri-isteri serta anak perawan untuk diperkosa atau dikawini secara paksa.

Di kampung tempat tinggal Murtado terdapat dua orang penguasa lokal yang perilakunya seperti tersebut di atas, bernama Bek Lihun dan Mandor Bacan.

Mereka adalah kaki-tangan dari Tuan Rusendal, seorang Belanda yang ditunjuk oleh Kompeni untuk memerintah di daerah Kemayoran.

Pada suatu hari saat tanaman padi sudah menguning, para warga segera berkumpul untuk mengadakan acara panen bersama.

Dalam musyawarah itu tidak ada seorang pun yang berani memutuskan kapan akan mengadakan panen bersama sebelum mendapat izin dari Mandor Bacan yang merupakan pengawas resmi yang ditunjuk oleh Tuan Rusendal.

Kemudian, mereka mengutus salah seorang yang dianggap sebagai sesepuh kampung untuk meminta izin kepada Mandor Bacan.

Dan setelah bertemu dengan Mandor Bacan, sang penguasa lokal tersebut mengizinkan dengan syarat setiap lima ikat padi yang dipotong, satu ikan untuk pemilik sawah sedangkan sisanya untuk Kompeni.

Beberapa hari kemudian panen padi pun dilaksanakan dengan pengawasan yang sangat ketat dari Mandor Bacan.

Setiap para petani yang telah memotong dan mengikat padinya diperintahkan untuk meletakkannya di depan Mandor Bacan untuk diperiksa.

Apabila seseorang telah mendapatkan lima ikat, maka empat ikat diantaranya akan diambil oleh Mandor Bacan sebagai upeti bagi Kompeni dan sisanya untuk si petani tersebut.

Saat sedang melakukan pengawasan tersebut Mandor Bacan melihat seorang gadis cantik yang ikut orang tuanya memotong padi.

Mungkin karena baru pertama kali ikut memotong padi, maka sang gadis membuat ikatan padinya terlalu besar.

Hal ini membuat Mandor Bacan marah dan langsung menegurnya dengan kasar, “Hei, kamu jangan kurang ajar dan berlaku curang ya! Ikatan padimu itu terlalu besar”.

Setelah berkata demikian, Mandor Bacan langsung menghunuskan belatinya lalu menarik tubuh si gadis dan mulai mempermainkannya.

Tetapi ketika ia akan menempelkan belatinya ke pipi sang gadis, tiba-tiba ada seseorang yang menangkisnya sehingga belati itu terpental jauh.

Orang yang berani menangkis sang mandor tersebut tidak lain adalah Murtado. Murtado dari awal memang ikut bersama orang tuanya dalam rombongan para petani untuk memanen padi.

Merasa dilecehkan, Mandor Bacan menjadi marah dan langsung menyerang Murtado. Terjadilah perkelahian yang sangat seru di antara keduanya. Masing-masing saling memperlihatkan kehebatan ilmu silatnya.

Namun, beberapa jurus kemudian Mandor Bacan kewalahan dan akhirnya lari terbirit-birit meninggalkan tempat itu.

Ia lari menuju ke rumah Bek Lihun untuk melaporkan bahwa Murtado telah menyerangnya. Mendengar laporan itu Bek Lihun pun marah dan langsung menuju ke tempat kejadian untuk mencari murtado.

Sesampainya di sana ia langsung membentak Murtado yang sudah kembali lagi memotong padi, “Hei, anak muda! Janganlah berlagak membela rakyat. Aku jijik melihat sikapmu!”

“Hei Lihun, kalau kerjamu hanya memeras rakyat, pastilah Tuhan akan menghukummu. Kelak engkau pasti akan hancur akibat perbuatan jahatmu itu. Lebih baik sekarang engkau bertobat, agar Tuhan tidak murka kepadamu,” kata Murtado dengan tenang.

“Jangan banyak bicara! Anak kemarin sore sudah berani macam-macam,” kata Bek Lihun sambil mengayunken kepalan tangannya ke arah kepala Murtado.

Ayunan kepalan tangan Bek Lihun dapat ditangkis dengan mudah oleh Murtado. Kemudian Murtado membalas dengan mengayunkan kakinya, tepat mengenai dada Bek Lihun hingga tubuhnya terjerembab ke tanah.

Dengan rasa yang semakin mendongkol Bek Lihun lalu bangkit sambil menghunus goloknya yang terselip di pinggang.

Tetapi Murtado tidak khawatir dan hanya memperbaiki sikap berdirinya sambil tetap mengawasi setiap gerakan Bek Lihun.

Ketika Bek Lihun mulai menyerang lagi, serangan itu dapat ditangkis dan bahkan Murtado sempat memukul punggung Bek Lihun hingga tersungkur ke dalam selokan tempat mengalirkan air ke persawahan.

Murtado yang menjadi jengkel, lalu mengangkat tubuh Bek Lihun dari selokan dan menguncinya hingga menjerit kesakitan dan minta ampun. Dan setelah dilepaskan, Bek Lihun pun lari terbirit-birit.

Semenjak kejadian itu, Bek Lihun menjadi dendam karena malu dikalahkan oleh seorang anak muda yang dianggap masih bau kencur.

Untuk membalas dendam terhadap perbuatan Murtado tersebut, Bek Lihun kemudian mendatangkan dua orang tukang pukul dari daerah Tanjung Priok untuk membunuh Murtado.

Namun, ketika melaksanakan tugas dari Bek Lihun kedua orang jagoan itu ternyata kalah melawan Murtado dan bahkan salah seorang diantaranya dihajar hingga tewas seketika.

Begitu usaha pertamanya itu gagal, Bek Lihun kemudian memfitnah dengan cara melaporkan pada polisi Kompeni bahwa Murtado telah membunuh seseorang di daerah Kwitang.

Singkat certia, rumah Murtado lalu didatangi dua orang polisi Kompeni dengan maksud untuk menangkapnya.

Namun, karena alibi Murtado sangat kuat bahwa ia selalu bersama teman-temannya dan tidak pernah pergi ke daerah Kwitang, maka kedua polisi itu pun tidak jadi menangkapnya.

Merasa usahanya gagal lagi Bek Lihun lalu mendatangkan tiga jagoan lagi yang berasal dari daerah Pondok Labu, Kebayoran Lama.

Ketiga jagoan tersebut yang bernama Boseh, Kepleng, dan Boneng ditugaskan untuk membunuh Murtado di rumahnya ketika sedang tidur. Namun, ternyata ketiga orang itu juga tidak berhasil Murtado.

Sebab ketika sedang mengendap-endap di sekitar rumah Murtado pada malam hari, mereka disangka sebagai maling dan dikeroyok oleh warga kampung. Selanjutnya, mereka diserahkan kepada Kompeni untuk ditahan.

Setelah orang suruhannya gagal melaksanakan tugas yang diberikan, Bek Lihun pun akhirnya memutuskan untuk melakukan sendiri aksi balas dendamnya.

Ia lalu pergi ke rumah gadis cantik yang dahulu dipermainkan oleh Mandor Bacan ketika sedang memanen padi. Gadis ini dianggap oleh Bek Lihun sebagai akar permasalahan hingga dirinya harus berurusan dengan Murtado.

Sesampai di rumah sang gadis, Bek Lihun langsung mengambilnya secara paksa dari tangan orang tua si gadis lalu dibawa ke rumahnya.

Melihat anak gadisnya dibawa lari oleh Bek Lihun, orang tuanya segera pergi ke rumah Murtado untuk memberitahukan kejadian itu.

Murtado yang sebenarnya menaruh hati terhadap sang gadis, terbakar emosinya dan segera berlari menuju ke rumah Bek Lihun.

Sesampai di sana ia langsung mendobrak pintu rumahnya dan melihat Bek Lihun sudah melpas bajunya dan ingin memperkosa sang gadis.

Dan, tanpa banyak bertanya lagi Murtado langsung menghajarnya hingga Bek Lihun meminta ampun dan berjanji tidak akan melakukannya lagi. Semenjak kejadian itu, Bek Lihun pun menjadi insyaf dan tidak berbuat semena-mena lagi terhadap penduduk.

2. Cerita Rakyat Kepulauan Seribu: Legenda Panglima Hitam dari Pulau Tidung

Panglima Hitam atau Wa’Turup lahir pada zaman Syarif Hidayah Tullah berkuasa di daerah Cirebon, Jawa Barat.

Ia dipercaya oleh sebagian penduduk Pulau Tidung sebagai orang yang pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Tidung. Jadi, dia beserta kawan-kawannya adalah penduduk pertama Pulau Tidung.

Kedatangan Panglima Hitam ke Pulau Tidung konon berawal ketika ia bersama pasukannya diperintahkan oleh Syarif Hidayah Tullah menyerang pasukan Belanda yang ingin menguasai Cirebon.

Namun karena kalah dalam hal persenjataan dan takut untuk kembali lagi ke Cirebon, mereka kemudian melarikan diri melalui laut hingga sampai ke Pulau Tidung. Di pulau inilah Panglima Hitam bersembunyi hingga akhir hayatnya.

Makam Panglima Hitam baru diketemukan pada tahun 2006 setelah seorang warga bernama Sugeng bermimpi bertemu dengan Panglima Hitam.

Dalam impiannya itu ia diperintahkan untuk mencari makam Panglima Hitam.

Setelah beberapa waktu mencari, akhrnya pada tanggal 31 Desember 2006 makam berhasil di temukan di bawah pohon kedondong tua yang letaknya di sebelah timur Pulau Tidung Kecil.

Oleh warga setempat makam dibersihkan dan direnovasi. Barang-barang peninggalan Panglima Hitam yang berada di sekitar makam, seperti keris, pedang, guci, kendi dan lain sebagainya juga dibersihkan.

Selanjutnya, makam bersejarah ini dijadikan sebagai tempat ziarah dan objek wisata bagi masyarakat Pulau Tidung dan sekitarnya

A Wife, Learner and Dreamer .

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here