Profil Provinsi Bengkulu | Peta, Logo, Sejarah, Seni dan Tempat Wisatanya

Indonesia sangat terkenal akan keindahan alam dan juga masyarakatnya yang ramah, selain itu Indonesia juga memiliki banyak pulau yang mana memiliki berbagai provinsi, salah satu provinsi di Indonesia yang akan kita bahas pada kesempatan kali ini adalah Provinsi Bengkulu.

Provinsi Bengkulu sendiri berada di bagian barat pegunungan yang bernama Bukit Barisan. Untuk luas wilayah dari Provinsi Bengkulu sendiri kurang lebih 19.919,33 km persegi atau 1.991.933 hektar.

Peta Provinsi Bengkulu

peta-kota.blogspot.com

Kemudian untuk wilayah dari Provinsi Bengkulu sendiri memanjang mulai perbatasan Provinsi Sumatera bagian Barat sampai dengan perbatasan Lampung, untuk jaraknya sendiri kurang lebih 567km.

Provinsi Bengkulu secara astronomi terletak antara 2° 16’ LU dan 3° 31’ LS serta antara 101° 01\’ – 03° 41 BT.

Sedangkan secara geografisnya, provinsi Bengkulu ada di sebelah utara dan berbatasan langsung dengan Provinsi Sumatera Barat, untuk di sebelah selatan, batas wilayah Bengkulu adalah Samudera Indonesia dan Provinsi Lampung, kemudian untuk bagian barat, batasnya adalah Samudera Indonesia serta untuk sebelah timur, Provinsi ini berbatasan dengan Jambi serta Sumatera Selatan.

Pada dasarnya Provinsi Bengkulu bisa dibilang memiliki batas langsung dengan sebuah samudera yaitu Samudera Indonesia di sepanjang garis pantai 525km.

Untuk bagian timur dari Provinsi Bengkulu sendiri berbukit namun memiliki tanah yang subur, sedangkan untuk bagian barat merupakan daerah yang memiliki dataran rendah yang mana relative sempit, bisa dibilang memanjang dari utara sampai selatan dan diselingi dengan daerah yang bergelombang.

Provinsi Bengkulu sendiri memiliki dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Selain itu kita juga akan membahas mengenai Provinsi Bengkuli secara lebih lengkap lagi, dan berikut ini adalah profil Provinsi Bengkulu secara lebih lengkap:


Sejarah Provinsi Bengkulu


Provinsi Bengkulu dibagi menjadi 9 kabupaten dan juga 1 kota yang mana terdiri dari 124 kecamatan. Selain itu Bengkulu juga memiliki sejarah yang menarik untuk dibahas, dan berikut ini adalah sejarah dari Provinsi Bengkulu:

Yang pertama adalah agama islam masuk ke Provinsi Bengkulu di abda 16 yang mana sebelumnya dari jawa. Perang Bengkulu dan Aceh yang mana terjadi pada abad ke 16 dan 17 terjad sebanyak 2 kali.

Dan untuk beberapa kesultanan yang ada di Bengkulu sendiri adalah Selebar, Anak Sungai dan juga Sungai Limau. Untuk Armada Aceh sendiri kemudian membuka serangan ke Selebar.

Kemudian yang kedua adalah mengenai kapal induk Anceh yang menunggu di laut bersama dengan induk pasukan, sedangkan untuk beberapa kapal yang memiliki ukuran lebih kecil memasuki Sungai Serut.

Pihak dari Selebar sendiri mampu untuk menahan serangan tersebut karena menutup Sungai Serut dengan menggunakan rintangan sehingga kapal induk Aceh tidak bisa untuk memberi bantuan kepada pasukan yang lebih dulu masuk.

Selain itu zaman prasejarah dari Bengkulu sendiri sudah dihuni oleh manusia. Pendatang dari Asia dapat berbaur dengan manusia purba kurang lebih 4000 sampai dengan 2000 SM.

Kemudian sebagian lagi masuk ke pedalaman, sementara untuk yang lainnya menghuni daerah pantai tersebut. Dan hal ini merupakan cikal bakal dari suku bangsa Neo-Malayan.

Bagian dari suku bangsa tersebut adalah suku Rejang, Serawai, Kaur, Lembak, Bengkulu dan juga suku Katahun.


Sejarah Provinsi Bengkulu


Profil Provinsi Bengkulu yang lain mengenai sejarah sendiri adalah tonggak sejarah Bengkulu yang mana sebagai berikut penjelasannya:

Pada tahun 1664 VOC mendirikan sebuah perwakilan di Provinsi Bengkulu, tetapi setelah 6 tahun kemudian, Belanda menutup sementara kantor tersebut dan dibuka kembali pada tahun 1824.

Kemudian pada tanggal 24 Juni 1685 Inggris mulai masuk ke Bengkulu, tetapi mereka mendarat di Pulau Tikus yang terletak 1km dari pusat kota Bengkulu, kemudian disambut oleh agen niaganya.

Mereka tidak masuk ke pelabuhan Selebar karena kapal yang ditumpangi Sultan Banten dan juga kapal Belanda sedang bersandar di sana.

Pada tanggal 16 Agustus 1695 perjanjian antara Inggris dan juga Bengkulu ditandatangani. Perjanjian tersebut berisi monopoli lada, kemudian izin untuk membangun loji dan juga mengadili penduduk yang sudah berbuat salah. Kemudian Inggris juga terus memperluas wilayahnya sampai dengan Muko – Muko.

Pada tahun 1692, Inggris mendirikan sebuah pos di Triamang, kemudian pada tahun 1701 Belanda memperluas daerah kea rah Seluma, Kaur, Manna dan juga Krui.

Lalu Inggris juga membangun sebuah benteng yang diberi nama Marlborough pada tahun 1718. Selain itu juga masih banyak lagi tonggak sejarah dari Provinsi Bengkulu yang lainnya.


Logo Provinsi Bengkulu


ardilamadi.blogspot.com

Seni Dan Wisata Provinsi Bengkulu


Selain geografis dan juga beberapa sejarahnya, Bengkulu juga memiliki beberapa profil Provinsi Bengkulu menarik yang lainnya, yaitu sebagai berikut:

Yang pertama adalah Bengkulu memiliki berbagai macam tari yang sangat menarik untuk disaksikan atau dipelajari seperti tari Putri Gading Cempaka, kemudian juga tari Tombak Kerbau, tari Kejei dan masih banyak lagi yang lainnya.

Kemudian yang kedua dilihat dari seni musiknya seperti geritan, kemudian serambeak yang merupakan seni berupa patatah – petitih, lalu andei – andei yang merupakan seni sastra yang berupa nasihat dan sambei yang merupakan seni vocal khas dari suku rejang, biasanya dilakukan untuk pesta pernikahan.

Selain itu pilihan wisata alamnya sangatlah banyak dan sangat menarik untuk dikunjungi seperti Danau Musi, kemudian Pantai Pasir Putih dan yang lainnya.

Untuk wisata sejarahnya sendiri juga bermacam – macam seperti Benteng Marlborough, Rumah Pengasingan Bung Karno dan masih banyak lagi yang lainnya.


Cerita Rakyat dari Bengkulu: Ular n’Daung


Dibawah ini adalah cerita rakyat yang berasal dari daerah Bengkulu. Ingin tahu cerita nya seperti apa? Yuk, simak selengkapnya.

Pada zaman dahulu kala, di kaki sebuah gunung di daerah Bengkulu hidup seorang janda tua bersama dengan tiga orang anaknya.

Mereka hidup sangat kekurangan di sebuah gubug tua berdinding anyaman bambu dan beratap daun rumbia. Untuk dapat menyambung hidup sang janda beserta anak-anaknya menjual buah-buahan hasil kebun mereka yang tidak seberapa luas.

Suatu hari sang janda tua itu sakit keras. Ia lalu dibawa berobat ke orang pintar yang ada di desanya. Kata sang orang pintar, dia harus diberi ramuan khusus berupa daun-daunan hutan yang dimasak secara gaib dari bara yang ada di puncak gunung.

Apabila hal itu tidak segera dilakukan, maka penyakitnya semakin bertambah parah dan akan berujung pada kematian.

Alangkah sedihnya anak-anak sang janda mendengar berita tersebut. Mereka menjadi sedih karena konon bara yang ada di puncak gunung itu dijaga oleh seekor ular gaib bernama n’Daung. Ular itu dipercaya oleh penduduk sekitar akan memangsa siapa saja yang mencoba mendekati bara.

Saat terjadi kebimbangan tersebut, tiba-tiba si bungsu yang parasnya sangat cantik menyatakan dirinya sanggup untuk mencari dedaunan hutan dan memasaknya di puncak gunung.

Tanpa menanti jawaban dari saudara-saudaranya yang lain ia langsung pergi menuju ke tengah hutan. Setelah dedaunan didapat ia segera berangkat menuju puncak gunung untuk memasaknya.

Sesampainya di puncak gunung, tiba-tiba ia mendengar suara bergemuruh disertai sebuah raungan yang sangat keras.

Inilah pertanda bahwa Si Ular n’Daung merasa terusik karena ada orang yang berani mendekati tempat tinggalnya.

Dengan sangat ketakutan, si bungsu mendekatinya dan berkata, “Wahai ular n’Daung, berilah saya sebutir bara gaib guna memasak dadaunan yang aku bawa ini untuk dijadikan obat bagi ibuku.”

Melihat kecantikan wajah si bungsu, Si Ular n’Daung sangat tertarik. Ia lalu berkata, “Aku akan memberikan bara gaib sebanyak yang kau minta, tapi syaratnya engkau harus mau menjadi isteriku. Bagaimana?”

Si Bungsu yang menduga bahwa perkataan ular itu hanya mengujinya, tanpa berpikir panjang segera menyanggupinya.

Ia lalu mendapatkan beberapa buah bara api untuk memasak dedaunan ramuan obat untuk ibunya. Setelah selesai, Si Bungsu segera pamit pulang pada Ular n’Daung. Ia berjanji akan datang lagi setelah memberikan ramuan obat itu pada ibunya.

Keesokan harinya, setelah sholat ashar Si Bungsu berangkat lagi ke puncak gunung. Waktu bertemu dengan Ular n’Daung hari telah malam.

Saat itu sang ular tiba-tiba berumah menjadi seorang ksatria tampan yang bernama Pangeran Abdul Rahman Alamsjah. Sebenarnya Pangeran ini telah disihir oleh pamannya sendiri menjadi ular.

Ia dapat beralih wujud menjadi manusia kembali hanya pada saat matahari telah terbenam. Apabila matahari mulai terbit, tubuhnya berangsur-angsur menjadi ular lagi.

Di lain tempat, setelah mendapat obat dari Si Bungsu, Sang ibu menjadi sehat seperti sediakala. Sementara kakak-kakaknya menjadi iri hati.

Mereka ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh Si Bungsu hingga ia berhasil mendapatkan bara gaib dari Si Ular n’Daung. Untuk itu, mereka pun berangkat menyusul Si Bungsu ke puncak gunung.

Sesampai di puncak gunung, kedua saudara Si Bungsu menjadi sangat terkejut melihat Si Ular n’Daung sedang beralih ujud menjadi seorang lelaki tampan.

Melihat ketampanan si Ular n’Daung timbullah perasaan iri dan ingin memfitnah Si Bungsu. Mereka lalu mengendap ke dalam gua dan mencuri kulit ular itu dan membakarnya dengan harapan si ksatria akan marah dan mengusir Si Bungsu.

Tetapi yang terjadi justeru sebaliknya. Akibat kulit ularnya telah terbakar, maka secara tidak sengaja kutukan pada Sang Ksatria pun otomatis sirna.

Sang Ksatria yang bernama Pangeran Alamsjah tersebut segera berlari ke arah Si Bungsu dan segera memeluknya. Selanjutnya mereka lalu pergi meninggalkan gua menutuk menuju istana Sang Pangeran.

Sesampainya di istana Sang Pangeran langsung mengusir sang paman yang telah menyihirnya menjadi seekor ular. Ia selanjutnya dinobatkan menjadi raja dan hidup berbahagia dengan Si Bungsu.

Add Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.